April 18, 2013

Galau VS Bento2an

Tersebutlah suatu hari di saat si anak pintar kesayangan Ayah Bunda, Rafasya, yang baru berusia 16 bulan tiba2 nggak mau makan. Entah kenapa Rafa makannya jadi nggak semangat, ngemut (duuhhh...) dan satu sesi makan siang bisa makan waktu sampai 1 jam. Ampunnn deh.. Awalnya sempat curiga apa mau tumbuh gigi, ternyata dicek nggak tuh.. Segala gaya makan udh dicoba. Dari makan sambil main, makan sambil nonton tv, sambil menggambar, pokoknya apa aja dicoba. Eh tapi kecuali makan sambil dibawa keluar rumah dan jalan2 ya.. Soalnya Saya sudah mengajarkan Rafa sedari MPASI untuk makan sambil duduk dan di dalam rumah. Tapi semua cara tetap nggak berhasil.

Langsung deh saya ngubek-ngubek suatu milis perMPASIan. Banyak dapet ide dari milis itu. Coba ganti sendok makannya pakai sendok cars kesukaannya. Gak berhasil. Ganti piring makannya pake piring makan Aybun. Gak berhasil juga. Pokoknya bundanya jadi bingung bin galau plus stress. Lha wong anaknya biasanya makannya super lahap dan nggak sampe 20 menit. Kok ini jadi sampe ngemut parah dan GTM  hebat. O,ya Rafa juga sekaligus kenalan sama GMM ( Gerakan Melepeh Makanan). Fiuh..


April 17, 2013

Belajar Toilet Training

Ceritanya gara2 Bundanya Rafa abis baca plus ikutan diskusi di sebuah forum tentang Toilet Training (TT) ini. Ternyata kok ya Rafa sdh masuk usia untuk melakukan TT. Jadi dengan semangat Bunda pun mencoba mengajarkan Rafa untuk pup dan pipis di toilet. Padahal neneknya sdh ngingetin dari Rafa umur setahun. Hehehe.. Bundanya keenakan bergantung sama diapers nih. Emang nih diapers itu mempermudah sekaligus membuat terlena.

Konon katanya, dari hasil googling dan baca sana - sini, memulai Toilet Training itu baiknya di usia 18 - 24 bulan. Kenapa? Karena di usia ini anak sudah mampu mengenali rasa ingin pipis / pup disebabkan oleh otot pengatur rasa ini sudah bekerja dengan sempurna. Juga karena anak sudah mulai bisa diajak bicara dan mengerti. Tambahan lagi, mengajarkan anak untuk TT di usia lebih dari 3 tahun akan lebih susah lagi. Mungkin karena si anak betul-betul sudah terbiasa pipis dan pup di diapers kali ya.. Trus kabarnya anak laki - laki dan perempuan itu berbeda kemampuan TTnya. Kalau anak laki-laki akan mahir TT di usia 2,5 tahun dan anak perempuan di usia 2 tahun. Ini kalau saya nggak salah baca yaaa.. Nah sekarang Rafa sudah 20 bulan. Waaa.. sudah waktunya nih.

April 7, 2013

Review Buku Cerita Di Balik Noda


Membaca buku Cerita Di Balik Noda karya Fira Basuki ini membuat saya, ibu satu orang anak laki2 yang baru berusia 20 bulan bernama Rafasya, seakan mendapatkan gambaran mengenai bagaimana masa pertumbuhan anak saya ke depannya juga pembelajaran dalam hidup. Terdengar berlebihan? Terlalu mengada -ada? Bagaimana bisa sebuah buku tentang 'noda' bisa membuat saya menjadi lebih berilmu dalam kehidupan?

Coba saja baca cerita berjudul Sarung Ayah. Betapa si kecil bisa sangat sedih ditinggal ayahnya dan menjadikan sarung sebagai penawar rindunya namun tetap tampil ceria di hadapan ibunya. Cerita ini memberikan pelajaran pada saya bahwa anak juga dapat merasakan kesedihan yang mendalam dan mengatasinya dengan cara mereka sendiri. Atau cerita berjudul KokI Cilik. Kecintaan dan kehebatan seorang anak dalam dunia masak ala Chef di televisi menjadikannya pengusaha kue. Wow.. Bentuk ilmu lain tentang bagaimana menjadi orang tua yang selalu mendukung kegiatan positif anak. Benar kan? Baru 2 cerita saja saya sudah mendapatkan ilmu untuk menjadi orang tua. Ada lagi cerita Tak Jadi tentang Rina dan Agung. Membacanya membuat saya belajar untuk lebih menghargai dan mempercayai sang kepala keluarga. Juga cerita Kaki (Harus) Kotor, seolah saya sedang mengulang kembali episode bagaimana Rafasya berjalan. Karena Ia baru bisa berjalan sendiri di usia 13 bulan. Masih ada 38 kisah lain di dalam buku bersampul putih yang terciprat noda cokelat yang akan membuat saya menjadi lebih 'kaya' lagi..

Kepiawaian Fira Basuki sebagai Penulis dalam menuturkan ulang kisah yang ada serta membuat 4 cerita baru tidak perlu diragukan lagi. Karena disaat menyusuri kata demi kata tentang semua cerita yang diambil dari kehidupan sehari2 ini saya tidak merasa terbebani malah menikmati, kalau tidak boleh dikatakan kecanduan, untuk terus melahapnya sampai habis. Tata bahasa yang sederhana juga membuat waktu yang berjalan untuk menghabiskan 235 halaman terasa begitu singkat. Seolah saya sedang menonton semua cerita secara langsung di depan saya. Begitu nyata..

Jika Anda seorang ibu dengan anak yang sudah tumbuh besar atau dewasa, Memiliki buku ini berarti anda akan menaiki mesin waktu untuk bernostalgia dengan masa kecil si buah hati. Untuk para ibu muda di luar sana, buku ini selain memberi gambaran tentang anak - anak kita ke depan nanti yang juga sarat akan nilai kehidupan. Bahkan para ayah pun layak membaca buku ini agar mereka mengetahui 'noda - noda' yang pernah tertoreh yang menjadikan anak mereka seperti sekarang ini. Betul - betul kisah yang menginspirasi jiwa. Oleh karena itu, beberapa kesalahan pengetikan dan juga keberadaan cerita yang terlalu 'klise' tetap tidak mengurangi banyaknya pembelajaran lewat noda yang saya terima. Malah sekarang, saya selalu menantikan Rafasya bermain dengan 'noda' demi mendapatkan pembelajaran untuk kami berdua. Bukankan Berani Kotor itu Baik? Tentunya berkotor-kotor yang positif ya..

Bagaimana, tertarik untuk mendapatkan inspirasi jiwa seperti saya?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Ngeblog Review  Buku “Cerita Di Balik Noda” yang diselenggarakan oleh KEB bekerjasama dengan Rinso