December 22, 2013

Mamaku..

Hampir 30 tahun yang lalu ia berjuang..
Melahirkan secara normal bayi perempuan seberat 4,6 kg
Jangankan berkenalan dengan operasi caesar,
Bertemu dengan rumah sakit besar saja sudah bersyukur..

Karena proses melahirkan yang sulit,
Bayi perempuan itu harus dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap.
Tak sempat mencium keningnya atau mengabadikannya seperti yang lazim dilakukan pasangan masa kini.

Bed rest selama 40 hari pun dijalani olehnya.
Selagi lemas tak berdaya di tempat tidur, putrinya pun diobservasi selama 3 bulan lamanya di rumah sakit yang berbeda..

Tak ada organisasi seperti AIMI
Tak ada forum dan website seperti the urban mama atau mommiesdaily
Tak kenal dengan internet
Tak paham betapa maha dahsyatnya cairan yang keluar dari dirinya
Karenanya..
Tak ada ASI eksklusif

Hari berganti minggu
Minggu berganti bulan
Kuasa Allah menolong mereka berdua
Diberi pisang dan kopi diusia 5 bulan,
Bayi perempuan itu tumbuh sehat dan lincah
Tumbuh menjadi anak kecil yang hobi bernyanyi sinanggar tulo

20 tahun yang lalu..
Allah uji kedua perempuan ini dan keluarganya
ITP mencoba menambahkan romansa dalam kehidupan mereka
Dengan perut membuncit selagi mengandung anak ke3nya,
Perempuan itu tersungkur di malam sunyi..
Menangis sejadi - jadinya, meminta ampun dan memohon kesehatan putrinya pada sang Khalik.. Sekali lagi..
Berusaha tegar tatkala sahabat putrinya, yg jg penderita ITP, berangkat bertemu sang Khalik
Allah menjawab doanya, Allah berikan kesehatan pada putrinya

4 tahun yang lalu..
Ia meneteskan air mata
Bukan karena meminta kesehatan putrinya, meski doa itu pasti selalu ada dalam setiap sujudnya
Itu adalah air mata bahagia dan haru..
Hari itu, putri kecilnya meminta izin untuk menikah..

Kemarin..
Wanita separuh baya itu kembali berkaca - kaca..
Dengan penuh perjuangan lahir dan batin
Insya Allah sebentar lagi ia akan bertamu ke rumah Allah

Hari ini..
Dengan penuh rasa bangga dan cinta tak terkira
Kuucapkan
"Selamat Hari Ibu Mamaku..
Jikalau setiap hari sejak engkau melahirkanku aku mencuci dan mencium kakimu, tetap tak akan mungkin aku membalas semua yang kau lakukan"

Dialah wanita terhebat dalam hidupku..
Mamaku..




December 20, 2013

Gaul ala Mimi Mariani Rusli

Gaul.

Ada banyak definisi dari kata gaul. Nongkrong di kafe terbaru sembari ngobrol tentang film, Indonesia -  Hollywood  atau mungkin Bollywood pun boleh, yang paling baru beserta cerita paling baru tentang pemainnya menjadi hal yang jamak dilakukan. Window shopping ke brand merk terkenal sambil mencoba beberapa sepatu, tas atau pakaian dan akhirnya menenteng beberapa barang yang mungkin tidak terlalu diperlukan juga menjadi hal yang biasa terjadi. Atau hanya sekedar duduk di food court dan menikmati bubble tea dengan soundtrack curahan hati sahabat yang sedang patah hati. Aktivitas - aktivitas tersebut bisa dikatakan termasuk dalam definisi gaul ala masa kini.

Namun sebenarnya ada cara bergaul lain yang tidak kalah asyiknya lho..



Adalah Mimi Mariani Lusli, seorang wanita yang menerima vonis kebutaan total tepat disaat ulang tahunnya yang ke 17. Keadaan yang membuatnya tidak bisa menikmati anugerah Tuhan berupa penglihatan ini ternyata tidak menjadikannya terpuruk. Mimi justru semangat untuk mempelajari huruf Braile dan meneruskan sekolahnya hingga tamat S1. Namun, saat akan melamar kerja Mimi menemukan kesulitan. Kesulitan inilah yang akhirnya mendorong Mimi untuk mendirikan Mimi Institute. Ia ingin membantu teman-teman yang juga memiliki keterbatasan agar tetap bisa mendapatkan pekerjaan tanpa diskriminasi. Ia ingin teman - teman lain para penyandang disabilitas bisa memiliki keahlian yang diperlukan untuk mencari kerja dan bersosialisasi dalam masyarakat tanpa merasa minder. Melalui Mimi Institute ia melakukannya.


Mimi Mariani Lusli hanyalah wanita biasa. Yang luar biasa adalah Ia memiliki tekad dan ketekunan dalam meraih berbagai gelar pendidikan meski ia tak dapat melihat. Gelar Sarjana diperolehnya di IkIP Santa Dharma Jogja (1989), Master of Science di Universitas Indonesia (1997) dan Beasiswa dari British Council pun diraihnya sehingga ia bisa lulus dari program studi Master of International Communication di Leeds University - Inggris. Masih kurang gaul? Di tahun 1991 - 2003 Mimi mengajar tentang Metode Bergaul dan Berkomunikasi dengan Orang Cacat di Universitas Atma Jaya. Selain itu Mimi juga bergabung di berbagai organisasi penyandang tuna netra. Semua dilakukannya demi mewujudkan perubahan sikap bagi penyandang difabilitas maupun bagi masyarakat umum.

Promoting disability - maaf fotonya krg bagus



December 13, 2013

Antara Rafa , Gunting dan Lem

Sudah sejak beberapa bulan terakhir ini, Rafa selalu mendekay setiap kali melihat saya menggunakan gunting. Awalnya hanya bertanya

"Itu apa Nda? "

Atau hanya memperhatikan saat saya sedang menggunakannya. Tapi beberapa hari terakhir ini Rafa selalu meminta gunting yang saya pegang. Akhirnya saat wiken kemarin, saya pun sengaja ke toko buku untuk membelikannya gunting khusus anak. Pilihan saya jatuh pada gunting dari Maped ini. Meski di kertasnya tertera untuk usia 3 tahun ke atas, saya memilih untuk mengenalkan gunting ini pada Rafa sekarang. Saat usianya 2 tahun 4 bulan. Kenapa? Karena saya merasa Rafa sudah siap. Ia sudah memiliki ketertarikan terhadap gunting tersebut dan sudah memperhatikan bagaimana cara menggunakan gunting melalui saya.

Maaf gambarnya agak kabur


December 11, 2013

Kenalan sama Happy Call

Alhamdulillah beberapa bulan yang lalu.. mmm.. apa udh setahun ya.. dibeliin Ayah Happy Call. Klo ga salah 440rb dapet dua. Satu lagi dioper deh ke neneknya Rafa. Biasa., modis alias modal diskon dari Deal Keren. Tapi begitu barangnya dateng langsung ditaro aja gitj disamping kursi. Jadinya lupa deh klo punya. Haha.. Sampai akhirnya sebulan yang lalu entah kena angin dari mana tiba2 pengen nyobain bikin - bikin sesuatu pake happy call ini. Maka jadilah salah dua cemilan berikut. Eitss, jangan ngebayangin bakalan ribet ya. Ga bakat saya sama yang ribet - ribet. Ini mah gampang bin gampil..


Yang pertama bikin brownis cempang cemplung. Meski hasil akhir agak gosong di satu sisi karena ditinggal nemenin Rafa tidur. Hihi.. tapi performanya sungguh luar biasa. Sanggup membuat ayah yang biasanya nggak pernah ngemil2 stelah pulang tengah malam sukses menghabiskan 6 potong dan langsung tidur. Hahaha.. Apa? Resep? Kan udh saya bilang saya nggak ahli yang ribet - ribet. Bikinnya aja pake ini kok.. 

December 6, 2013

Mampir ke Craft Patty



Ayoo teman - teman yang suka giveaway.. Mari mampir ke Crafty Patty.

Keren - keren kan hadiahnya? Caranya gampil surampil.. mari meluncur kesana... 

Pst.. Jangan bilang - bilang ya.. dsana banyak tutorial yang oke punya loh.. 

Cari - Cari Kitchen Sink

Biasalah nama pun udh jadi emak - emak kan ya.. Jadi pas ada urusan bangun rumah yang diurusin selain kamar utama, langsung deh ke bagian dapur. Pengennya sih punya kitchen set yg kece. Demi menunjang bentuk kitchen set yang masih diawang - awang ini tentunya perlu ada kitchen sink. Naksirr berat sama kitchen sink merk Blanco. Tapi apa daya saldo tabungan juga yang akhirnya berbicara. Haha..

Sebagai emak masa kini, duhhh.., saya pun mulai browsing ke forum2 untuk tahu bagaimana cara memilih kitchen sink yang oke. Sembari browsing nggak lupa tiap ada tema dapur saya selalu sounding ke ayah tentang betapa kerennya model kitchen sink sekarang. Semacam preambule supaya ayah nggak shock lihat deretan kithcen sink seharga motor.

December 4, 2013

note to my self : teguran dari seorang saudara

Hijab Gone Wrong

Hari ini gue pergi ke sebuah mall bergengsi di kawasan Jakarta Pusat untuk ketemuan sama temen kuliah gue. Jarang-jarang gue pergi ke mall itu di akhir minggu kayak hari ini, karena asumsi gue: pasti rame. Asumsi gue bener. Hari ini, mall itu penuh banget sama bule-bule. Gue ketemu sama temen kuliah gue, ngobrol sambil makan, terus gue pulang. Gue pulang lewat toko buku yang liftnya ngehubungin mall dengan salah satu gedung perkantoran dan gedung itu lebih deket ke halte busway. Pas gue lagi nunggu lift, gue ngeliat ada cewek pake hijab modifikasi yang menurut gue bikin dia keliatan kayak pake sarang lebah. Bayangin aja dia pake hijab dua rangkap, rangkap pertama dibikin jadi kayak rambut, rangkap kedua modelnya agak transparan gitu warna biru tua terus dililit-lilitin di kepalanya dengan aksen berantakan. Buat gue sih keliatannya jadi kayak sarang lebah.

Sepanjang perjalanan pulang, gue terus mikirin fenomena hijab ini, sampe gue sempet ngetwit beberapa pendapat gue. Tapi kayaknya kok nggak afdol ya kalo cuma disampein lewat Twitter, enaknya kalo nyerocos panjang lebar sekalian di blog. Jadilah gue berusaha mengingat poin-poin apa yang mau gue tulis di blog malam ini. Semoga bisa jadi refleksi buat kalian semua, pembaca blog gue yang berhijab atau mau pake hijab.

Nggak dipungkiri lagi, mode hijab sekarang lagi ngetren banget di Indonesia. Buat gue yang minoritas, kerasa banget lho perbedaannya. Selama 4 tahun kuliah aja, entah berapa temen gue yang memutuskan untuk pake hijab. Kemanapun gue pergi, naik apapun gue, selalu ada anak muda yang berhijab. Gue sih menyambut perubahan ini sebagai sesuatu yang bagus, karena lihat dari segi positifnya sih akhirnya banyak wanita Muslim yang mau menutup sesuatu yang disebut aurat di agama mereka. Diharapkan setelah pake hijab, kelakuan wanita Muslim juga lebih ke arah Muslim dan jadi contoh yang baik untuk masyarakat.

Tapi walaupun sepositif-positifnya gue, tetep aja gue ngerasain banyak banget dampak negatif dengan mode hijab ini. Bukan negatif secara agama, tapi negatif secara image. Gue ngerasa, hijab yang belakangan ini jadi mode, lama-lama malah dianggap sebagai aksesori semata. Kesan kesucian agamanya hilang karena makin banyak hijab yang dimodel-modelin. Ya mulai dari punuk unta lah (ini model hijab yang paling gue sebel, emang enak ya ada cepolan tinggi di atas kepala lo?), bentuknya kayak rambut lah, macem-macem deh, gue sendiri juga nggak tau nama-nama modelnya apa karena ya emang nggak pernah pake hahahaha! Mungkin modifikasi hijab ini dilakukan untuk menarik wanita Muslim untuk berjilbab, dengan pemikiran hijab bisa keliatan update dan bisa menjawab keresahan wanita Muslim yang pengen berhijab tapi takut nggak bisa keliatan modis lagi. Tapi gue nggak setuju tuh sama pemahaman kayak gini karena lama-lama laju modifikasi hijab terkesan makin nggak beraturan dan jadi nggak sesuai dengan norma-norma agama Islam yang ada. Ya harus sesuai norma Islam dong, itu kan perangkat agama. Daripada hijab dijadiin komoditas mode, sekalian aja pakeheadscarf ato turban! Sama-sama penutup kepala dan bisa dibikin modis kan?

Contohnya aja deh. Misalnya beberapa tahun lagi selain tren hijab akan ada tren pake kalung salib atau hal-hal yang berkaitan dengan salib kayak kaos gambar salib, gelang dengan bandul salib, dan lain sebagainya. Gue, sebagai orang Kristen, pasti suka, karena gue ngerasa lambang agama gue diterima di masyarakat luas. Tapi gue akan jadi sebel kalo makin banyak orang yang menyalahgunakan pemakaian gambar salib, kayak misalnya muncul motif salib terbalik (yang di agama gue adalah simbol dari Antikristus), atau salib yang dimacem-macemin modelnya, sehingga esensi kesucian dari salib itu hilang. Lama-lama orang pake ornamen salib bukan untuk semakin mengimani agamanya, tapi untuk gaya-gayaan. Nah, ini yang gue rasakan terhadap laju mode hijab yang makin lama makin cepat ini. Perempuan Muslim lama-lama pake hijab bukan sebagai tanda patuh terhadap perintah agama, tapi cuma karena hijab lagi ngetren. Nanti kalo suatu saat tren hijab ilang, lalu mau diapain dong cewek-cewek Muslim yang pake hijab cuma buat aksesoris doang? Masa disuruh lepas hijabnya?

Maafkan gue, tapi gue masih berpikir bahwa lo pake hijab kalo lo merasa siap. Siap untuk apa? Siap untuk berpakaian sederhana, siap untuk nahan diri pamer badan lo ke masyarakat, siap untuk menjalankan hidup yang nggak sepenuhnya duniawi. Bahasa gampangnya? Siap mengerem diri pake celana skinny jeans dan baju ketat. Siap menolak kalo ditawari ngerokok atau minum. Kalo di agama Katolik, gue menganalogikan cewek yang siap pake hijab itu kayak cewek yang memutuskan untuk jadi biarawati. Kesamaannya terletak di kewajiban untuk menjalankan hidup sederhana. Tapi masalahnya banyak cewek jaman sekarang yang pengen keliatan mewah padahal pake hijab. Yeeee, lu harus milih salah satu... karena pada dasarnya hijab itu menutup aurat lu dan menutup semua kekayaan lu supaya nggak dilihat dunia...

Padahal, kalo aja cewek-cewek itu mau nyari tau lebih banyak, ada kok cara-cara pake hijab yang sederhana tapi masih keliatan rapi dan mewah. Mewah itu nggak perlu jadi kayak toko perhiasan berjalan kok. Lo punya temen cewek yang bajunya sederhana tapi keliatan rapi dan mewah? Nah, tanyain caranya sama dia. Dengan pemilihan warna dan bentuk baju yang tepat untuk badan kita (tanpa harus ngeliatin lekuk tubuh), kita bisa keliatan rapi, sederhana tapi mewah dengan hijab yang (kata ustad) syar'i. Actually you can have the best of both worlds, you just gotta work more to achieve it. 

Udah ah, sekarang gue mau menyerahkan semuanya ke kalian. Pilih keputusan berhijab karena memang keputusan dari hati atau cuma pengen ikut-ikutan aja? Beneran siap nggak pake hijab? Karena hijab itu bukan sekedar tren. Modifikasi hijab memang lagi tren, tapi esensi dari hijab sendiri adalah sebagai alat agama. Suatu saat nanti bisa jadi hijab kembali ke bentuk dasarnya. Jangan sampe buta dan nggak bisa ngebedain tren dengan perangkat agama. Pikir juga, apa yang akan lo lakuin kalo tren modifikasi hijab lenyap dimakan waktu? Bakal tetep pake hijab atau malah lepas hijab karena udah nggak tren lagi?

Diambil dari Blognya Jude