October 22, 2014

Talkshow "Parenthood Style di Era Digital" bersama Ayah Bunda dan Monde Boromon


Seorang teman curhat pada saya. Anak lelakinya yang berusia 4 tahun, yang sudah hafal Abjad melalui lagu, mengenal angka juga melalui lagu, harus diikutkan les menulis demi mempersiapkan dirinya memasuki Taman Kanak - Kanak tahun depan. Padahal menurut teman saya si anak sudah bisa menghubungkan garis putus - putus baik untuk abjad atau pun angka.............. di iPad. Jelaslah alasannya memasukkan anak lelakinya ke lembaga kursus akibat si anak belum bisa memegang pensil dengan baik. Kekurangannya dalam memegang pensil dengan baik ini mengakibatkan apa pun yang ditulisnya menjadi kurang jelas bentuknya dan kabur. Wow, sedemikian dahsyatnyakah pengaruh gadget pada anak kita? Talkshow Parenting yang diadakan oleh Ayah Bunda bersama Monde Boromon menjawab pertanyaan saya.


Mari registrasi dulu..


Talkshow yang diadakan di Playparq Kemang ini menghadirkan seorang psikolog Anna Surti Ariani S.Psi, M.Si., Psi. Seorang psikolog yang akrab disapa Mbak Nina. 

Mbak Nina
Pada awal talkshow, Mbak Nina menjelaskan mengenai digital natives. Apa itu Digital Natives? Digital natives adalah orang yang sejak kecil mengenal dan memanfaatkan kecepatan kerja gadget, dengan cepat mereka belajar fitur gadget serta memiliki pemahaman yang cepat terhadap internet. Singkatnya digital natives itu adalah anak - anak kita yang dikenalkan gadget sedari bayi. Coba cek gadget masing - masing, ada aplikasi apa saja di dalamnya? Punya aplikasi Marbel, download banyak film atau tokoh kartun Dodo Syamil, aplikasi smart baby dan lagu-lagu anak? Yes, anak saya pun termasuk kalau begitu. Tutup muka pakai cover iPad.

Mbak Tenik juga ikutan sharing

Trus apa pengaruhnya jika buah hati kita ini termasuk digital native?

Pengaruhnya itu bisa ringan sampai berat lho. Anak bisa menjadi obesitas, malas bergerak, koordinasi motorik yang kurang baik, emosi kurang berkembang dan kesulitan bersosialisasi. Jadi kalau anak kita nggak mau bertemu teman sebayanya, kurang mampu memegang pensil dengan baik seperti anak teman saya atau tidak mau mengalah nah, coba dicek berapa lama mereka bergaul dengan gadget ketimbang melakukan aktivitas fisik. Jika terlalu lama, kemungkinan besar anak kita sudah terkena dampak buruk dari gadget.

Bagaimana meminimalisir pengaruh negatif gadget?
Mbak Nina mengatakan bahwa anak yang berusia di bawah 2 tahun sebaiknya tidak diberikan gadget. Untuk anak di atas usia 2 tahun tentunya harus dibatasi, baik dari segi waktu pemakaian gadgetnya juga aplikasi yang dimainkan. Untuk trik membatasi waktu bermain kita bisa memberikan gadget dengan baterai yang terbatas, membuat perjanjian jika selesai 1 level maka selesai bermain atau memberlakukan hari boleh bermain gadget seperti yang kami lakukan. Jadi Rafa hanya boleh bermain gadget di hari sabtu minggu dengan batasan maksimal 2 jam, itu pun hanya jika Rafa yang memintanya. Jika Rafa nggak ingat, maka kami nggak akan memberikannya.

Selain membatasi gadget, kita sebagi orang tua juga harus mampu mengalihkan perhatian anak pada kegiatan yang menyenangkan. Misalnya bermain di luar, ada banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan di luar rumah. bersepeda, bermain bola, bermain bubble dan mengejarnya bahkan hanya mengamati hewan - hewan yang ada di taman. Yang terpenting ajaklah anak untuk bergerak.



Children see, Children Do. Kalimat ini sudah menjelaskan bahwa anak adalah peniru ulung. Oleh karena itu coba cek terlebih dahulu, apakah anda adalah orang tua yang setiap beberapa menit memeriksa ponsel, lebih suka berkomunikasi lewat ponsel dibanding bertatap muka, tidak menyadari keadaan sekitar akibat pandangan mata selalu tertuju pada ponsel, kebingungan saat baterai ponsel menipis atau jarang mematikan ponsel? Jika Ya, berarti anda terkena nomophobia. Saya juga suka kena si nomophobia ini nih. Apalagi kalau lagi janjian sama orang dan belum ketemuan. Duhh.. Saya bisa rewel bner nyari stop kontak, maklum nggak punya power bank (curcol..)

Jika Anda adalah orang tua yang tidak bisa melepaskan pandangan anda dari ponsel atau gadget yang anda miliki, maka kemungkinan besar anak anda akan menirunya. Kalau begitu pertanyaannya adalah jika kita adalah orang tua yang termasuk kategori high tech parents mengapa kita harus mengharapkan anak kita tumbuh menjadi low tech parents? Anak - anak adalah peniru yang ulung. Mereka melakukan apa yang mereka lihat. Bahkan seorang Steve Jobs saja termasuk kategori low tech parents karena tidak membiarkan anaknya kecanduan gadget yang ia temukan.

Fiuhh... Berat ya pembahasannya?

Saya yang hadir di talkshownya kemarin betul - betul merasa beruntung. Karena dengan hadir disana saya kembali diingatkan akan bahaya gadget. Selain mendapat ilmu tentang gadget, kami para ibu - ibu peserta talkshow juga mendapatkan info mengenai produk dari Monde Boromon yang dapat membantu melatih motorik anak. Lho kok bisa? Bisa dong.



Monde Boromon adalah biskuit yang terbuat dari sari pati kentang, gula, telur dan madu. Kandungan yang sehat tersebut dikemas dalam kemasan kecil yang praktis dan higenis. Dengan tekstur Monde Boromon yang lembut sehingga mudah dikunyah dan menguatkan otot rahang anak. Bentuk bulatnya juga membantu anak berlatih menggenggam, memegang dan menjepit Monde Boromon. Sari pati kentang yang menjadi bahan pembuatan biskuit ini merupakan bahan yang bebas kandungan gluten. Sehingga Monde Boromon dapat dikonsumsi oleh anak - anak yang mengalami obesitas atau alergi gandum. Kebetulan Rafa (dan bundanya ) memang suka ngemil boromon ini. Bahkan kalau tidak salah dulu saya biasa membelinya dengan kemasan hijau dan orange. Hihihi..



Selain membagikan ilmu parenting dan memperkenalkan gadget, Talkshow kemarin juga diisi dengan demo masak menggunakan Monde Boromon. Ada 2 resep yang dibuat kemarin yaitu Bola Cokelat dan Cupcake Monde Boromon.

Saatnya demo masak
Cupcake Monde Boromon
Photo dari Monde Boromon Fan Page
Bahan Bola Cokelat, foto dari Monde Boromon FP


Komplit deh. Dapat ilmu parenting tentang gadget, dapat resep cemilan untuk Rafa dan Rafanya juga puas main di Playparq. Monde Boromon ini dapat dengan mudah ditemui di berbagai supermaket besar. Dengan kemasan yang pas digenggam anak, Monde Boromon ini menjadi cemilan yang sering saya bawa saat jalan- jalan. Makasi Ayah Bunda, Monde Boromon dan juga Playparq sudah mengundang kami. Untuk event seru lainnya dari Monde Boromon jangan lupa follow juga twitternya ya.


Teh Chi - Yeye - Saya - Mia numpang narsis ya




10 comments:

  1. duhh enaknya...talkshow nya bisa dapet double ilmu yah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. dobel bgt mak.. plus anaknya sneng krn bs main2. hihi

      Delete
  2. ihhh seneng dan serunya yaaa bisa ikut acaranyaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru bangett, apalagi yg acara main2 d playparqnya. :D

      Delete
  3. segala di dapet nih ilmu pastinya, juga silaturahmi ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan kehebohan bocil yg minta main airnya mbak.. hehe..

      Delete
  4. paling enak memang dapet undangan talkshow kyk gini. Yang seneng gak cuma emaknya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. betulll.. enaknya lg tempatnya lmyn adem ya teh.. jd anak2 main ttp seru..

      Delete
  5. Betul, talkshownya bermanfaat banget yaa... pas banget deh buat galaunya mamak mamak muda yang dekat sama gadget

    ReplyDelete