October 27, 2016

Cerita Kelahiran Member Baru di Keluarga Kami, Arsel

Setelah si anak bayi berusia 3 minggu, si bunda baru sempat menuliskan cerita kelahirannya. Maklumlah, bundanya dikekep urusan perbayian setiap hari plus urusan anak bujang yang minta perhatian juga. Jadi disela - sela ganti diapers, mandiin adik bayi, nenenin, gendong - gendong, dan nidurin , saya juga harus menemani makan yang seringnya berubah menjadi nyuapin, menemani main yang nggak boleh disambi gendong adik, mandiin anak bujang, dan mendengarkan ceritanya yang juga nggak boleh dilakukan sambil nidurin adiknya. Emak kudu belah diri yaa. Haha.. Capek bin lelah dan pegal sudah pasti, bahkan kepala mau pecah plus emak udah pengen keluar rumah banget, tapi aku bahagiaaaa. Semua terbayar saat melihat duo bocilnya ayah bunda ini tidur. Damai banget..

Duh kebanyakan intronya ya, padahal mau cerita tentang lahiran si adik ini maksudnya. :D 


Jumat, 30 September 2016

Saya sudah merasa makin nggak nyaman saat berjalan. Meski begitu semua aktivitas tetap saya lakukan seperti biasa. Mengantar jemput Rafasya, belanja bulanan dan datang ke acara blogger pun masih saya lakukan. Tentunya saya menyetir mobil sendiri. Hal yang sama juga saya lakukan di hari Jumat akhir September yang lalu. 

Sekitar jam 10.30 saya sampai di sekolah Rafasya untuk menjemput dan langsung menuju RS Bunda Menteng untuk kontrol terakhir. Kami memang selalu mengajak Rafasya saat kontrol sejak si adik masih berupa kantung kehamilan. Kami ingin ia selalu tahu perkembangan si adik, selain juga agar Rafasya siap menjadi seorang kakak dan menyayangi adiknya. Kami sampai di RS sekitar pukul 12 siang, sambil ngemil kami menunggu Ayah yang masih sholat Jumat. 

Setelah daftar ulang ternyata saya adalah pasien terakhir. Karena belum dipanggil, saya memutuskan untuk sholat dzuhur sambil menunggu giliran. Kalau tidak salah ada 2 orang pasien lagi sebelum saya. Saat kembali dari sholat, suami saya sudah menunggu dan setelah pasien yang di dalam tiba giliran saya. Nama saya dipanggil, kami pun masuk dan saya langsung bersiap untuk USG. Saat dr. Nana bersiap meletakkan alat USG di perut buncit saya, ia memegang perut saya lalu berkata

dr. Nana : Ibu, ini perutnya nggak sakit?
Saya : Nggak dok. Ya saya merasa kenceng aja sih dok. Tapi nggak sakit. Memang kenapa ya dok?
dr. Nana : Ini ada kontraksinya nih.
Saya : oo gtu ya dok. dalam hati saya berucap, wah kejadian lagi nih seperti Rafasya.
dr. Nana : Coba kita USG dulu ya. Dokter langsung melakukan USG.
                hmm.. Semuanya bagus, detak jantung OK, air ketuban juga cukup. Kita coba periksa dalam dulu ya. 
Saya : Baik dokter. Dan ternyata ngilunya semakin menjadi aja gitu pas dokter melakukan periksa dalam. 
dr. Nana : coba CTG dulu ya supaya kelihatan kontraksinya bagaimana.
Saya : OK dokter.

Setelah selesai di USG saya langsung diarahkan suster untuk ke ruang bersalin untuk dilakukan CTG. Ruangannya sudah berbeda dari yang saya ingat. Ya iyalah, secara terakhir mampir kan 5 tahun yang lalu ya. Suster memasang alat yang bisa memperdengarkan detak jantung si adik di perut saya. Kemudian saya diberikan tombol yang harus ditekan setiap kali saya merasakan gerakan si adik. Proses ini berlangsung selama 30 menit.



Saat menunggu, saya dan suami ngobrol sementara Rafasya sibuk mengekplorasi kamar. :D Saya dan suami teringat akan kejadian menjelang lahirnya Rafasya. Dulu, dengan kondisi yang sama di hari kontrol terakhir Rafasya, saya diminta untuk melakukan CTG karena ada kontraksi. Saat itu saya diperbolehkan pulang namun jadwal operasi sesar saya harus dimajukan. Nah, kalau si adik kami memikirkan kemungkinan yang sama. Rencana awal yang sudah kami bicarakan dengan dr. Nana adalah melakukan operasi sesar tanggal 7 Oktober.

Setelah 30 menit suster mematikan mesin CTG dan mengambil hasilnya kemudian membawanya ke dr. Nana sementara kami menunggu. Nggak lama kemudian suster kembali datang dan memberitahu bahwa ia akan melakukan periksa dalam. Saya katakan bahwa dr. Nana sudah melakukannya. Ngilu bok, jadi daripada di cek lagi mending infoin aja ke suster kalau tadi sudah dilakukan oleh dr. Nana. Setelah saya beritahu, suster batal memeriksa dan meminta saya untuk menunggu dokter. Nggak lama dokter pun datang.

dr. Nana : Ini hasil CTGnya benar ada kontraksi dan kontraksinya di atas sedang. Jadi nggak boleh pulang lagi ya. 
Saya dan suami : kami senyum - senyum dan tertawa. OK dokter.
dr. Nana : Ini ibu nggak merasa sakit sama sekali ya?
Saya : Nggak dok. Masih sama rasanya, kenceng - kenceng aja perut saya tapi nggak sakit.
dr. Nana : OK. Terus, ini kita nggak bisa tunda sampai tanggal 7 nih. Harus segera dikeluarkan si adik. Karena kepalanya juga sudah turun banget ke jalan lahir kan, sementara kita mau sesar. 
Suami : Jadi kapan ya dok operasinya? Senin gitu ya?
dr. Nana : Oh nggak bisa pak. Ini nggak bisa nunggu Senin. Kalau malam ini aja bagaimana?
Suami : Kalau besok saja bagaimana dokter? Supaya tanggal 1 aja gtu dok? Hehe
dr. Nana : Oh iya ya sekarang 30 September ya? Haha.. Ya sudah besok ya kita jadwalkan. Jadi sekarang urus kamar saja terus cek lab ya. 
Saya dan suami : OK dokter.
Saya : Untung saya sudah bawa koper.
dr. Nana : wah, sudah feeling ya berarti? Haha..
Saya : Nggak tau dok, tadi pas mau berangkat rasanya pengen bawa koper aja. Jadi minta tolong si mbak angkat koper ke bagasi. 
dr. Nana : masih nyetir sendiri kesininya? Bener2 deh Ibu ini super ya. Haha.. OK, kita ketemu besok insya Allah ya.
Kami : OK dokter. Makasi..

Setelah dokter Nana meninggalkan kamar, kami pun tertawa. Wah.. Mirip banget sama proses kelahiran Rafasya. Hanya saja si adik sudah lebih nggak sabaran. Tapi usia kandungannya saat lahir sih sama. Sama - sama 37 w. Kemudian kami memberitahu Rafasya bahwa besok adik akan lahir. Yang tidak kami duga adalah ternyata Rafasya langsung menangis. 

Rafa : huhuhuhu.. Adik nggak usah lahir aja. 
Suami : Lho kenapa Nak? Kan senang punya adik. Nanti adiknya bisa diajak main lho.
Saya : iya Rafa, kan nanti ada adik mungil di rumah seperti teman - teman Rafa.
Rafa : Nggak mau. Nanti soalnya Bunda dipotong perutnya supaya adik bisa keluar. Rafa nggak mau bunda dipotong.

Huwaa.. Sontak saya pun meleleh jadinya. Masya Allah. Saking sayangnya sama Bundanya, si anak bujang ini nggak mau Bundanya dipotong perutnya. Akhirnya kami pun meyakinkan Rafasya bahwa insya Allah Bunda nggak papa meski harus dipotong perutnya. Terharu sekali saya mendengarnya.

Kemudian suster kembali datang memakaikan gelang dan kami pun pindah ke kamar perawatan. Setelah di kamar perawatan, suami menurunkan koper berisi baju kami bertiga yang memang sudah disiapkan plus tas mainan Rafa yang selalu ada di mobil dan tentunya cemilan untuk kami. Kemudian suami kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan memberi tahu bahwa Ia akan cuti demi menyambut anak keduanya.



Tinggallah saya dan anak bujang. Masya Allah selama berdua saja, Rafasya sangat membantu dan melayani saya. Setiap makan sesuatu, Rafasya akan menawarkan saya dan juga adiknya yang masih di dalam perut. Membantu mengambilkan minum untuk saya, mengambilkan sandal di kolong, BAK sendiri bahkan merapihkan mainannya tanpa saya minta. Ah, anak ini insya Allah sudah siap menjadi kakak. 

Petugas lab pun datang disusul suster yang menanyakan apakah saya menginginkan dokter anak yang khusus atau tidak. Ternyata dokter anak yang bertugas di hari Sabtu , sama dengan dsa Rafa. Jadi saya tidak perlu minta dokter lain. Lagi pula siapa pun dokter anaknya saya nggak masalah. Kemudian saya diingatkan untuk puasa 9 jam sebelum operasi. Malam itu saya dan Rafasya tidur berdua di tempat tidur rumah sakit. Sebelum keesokan harinya akan ada member baru di keluarga kami.



Sabtu, 1 Oktober 2016

Operasi yang seharusnya dijadwalkan pukul 8 pagi berubah menjadi jam 3 sore dikarenakan ternyata dokter Nana harus mengisi seminar di pagi hari. Informasi ini sudah diberitahukan pada saya sejak Jumat sore. Jadi jam bepuasa mulai jam 7 pagi setelah sarapan. Puasa total lho ya, bahkan air putih pun nggak boleh. Haus kali lah awak ni. Jam 12 suster mengingatkan untuk berganti pakaian dengan pakaian operasi saja, termasuk pakaian dalam pun tidak boleh dikenakan. Termasuk perhiasan seperti kalung dan cincin pun harus dicopot. 

Sekitar jam 1 siang suster datang dan melakukan tes alergi pada lengan bagian dalam. Agak bentol namun tidak merah, jadi dinilai aman. Jam 2 siang saya turun ke ruangan operasi dengan menggunakan kursi roda, prosedur ini mah. Padahal saya sih bisa banget jalan sendiri.



Masuk ke ruang persiapan operasi, suster yang ada disana mengganti infus dan memakaikan gelang. Di RS Bunda Menteng, suami boleh masuk keriangan operasi. Jadi saat di ruang persiapan operasi suami saya pun berganti pakaian steril. 

Sekitar 20 menit setelahnya saya pun didorong ke ruangan operasi, sementara suami masih di luar. Di ruang operasi saya disuntikkan obat bius. Kalau dulu saat Rafasya, menyuntik obat bius dilakukan dengan cara saya duduk dan menunduk. Kemarin, saya hanya perlu tiduran menyamping dan agak membungkuk seperti udang. Meski beda cara, namun jumlah suntikan yang saya dapat tetap 2 kali, sama seperti saat Rafasya dulu. Nggak lain nggak bukan dikarenakan dokter anestesinya sedikit meleset saat menyuntikkan obat bius, jadi harus diulang. Rasanya? Sakit sedikit saja kok. Kemudian nggak lama kaki mulai kram dan mati rasa mulai dari perut sampai kaki.

Hal selanjutnya adalah memasangkan segala jenis detektor mulai jantung dan tensi darah pada tubuh saya juga oksigen. Kemudian saya dipasangi kateter yang sayangnya dipasang oleh suster yang masih belajar sehingga prosesnya agak lama. Setelah kateter dipasang dan saya siap untuk dipotong, kalau bahasa Rafasya, suami dipersilakan untuk masuk. Selanjutnya dr. Nana memanggil saya dan mengatakan akan segera dimulai. Suami saya berdiri di dekat kepala saya sementara di atas dada dipasangi tirai yang membuat saya tidak bisa melihat ke arah perut. Namun sayangnya saya bisa melihat sedikit pada lampu operasi yang ada di atas saya. Haha.. Untungnya nggak terlalu jelas sih. Sekitar 5 menit setelah dr. Nana bicara, saya merasakan ada bagian perut saya yang bergoyang dan ditekan. Kemudian terdengarlah suara tangis anak kedua kami. 

Alhamdulillah.. Anak laki - laki kedua kami telah lahir. Air mata saya yang sejak tadi tertahan pun langsung tumpah. Rasanya amazed banget ada kehidupan lain yang terlahir dari rahim saya. Beruntung sekali saya di berikan kesempatan menjadi seorang ibu kembali. Setelah dibersihkan, bayi kami diletakkan di dada dan proses IMD dimulai setelah sebelumnya dokter anak memencet puting saya dan Alhamdulillah ASI saya sudah keluar. 

Samar - samar saya dengar asisten dokter Nana berkata

Varises ya dokter?

Ouch, ternyata di belakang dan di sekitar rahim tetap ada banyak pembuluh darah yang bengkak. Sehingga operasi sesar yang saya jalani menghabiskan waktu 1 jam, lebih cepat sih daripada saat Rafasya yang makan waktu 2 jam. IMD tidak berlangsung lama karena si adik yang setelah menghisap kolostrum mulai menangis kencang. Sepertinya ia kedinginan. Kemudian si adik diambil untuk dibersihkan, suami pun mengikuti si adik. Lalu saya pun ditidurkan karena tampaknya para dokter sibuk menjahit atau apapun itu yang mereka harus lakukan karena ada banyak varises di rahim saya. 

Setelah melewati 2 jam di ruang pasca operasi sekitar jam 7. 30 malam saya kembali ke kamar perawatan. Rafasya terlihat senang melihat wajah saya, namun agak sendu saat melihat ke bagian perut saya. Hehe.. Yang pasti ia senang sudah memiliki adik. Ya saya dan suami pun sangat bahagia dengan kehadiran anggota baru di keluarga kami, Arsel. 



20 comments:

  1. selamat atas kelahiran anaknya ya mbak

    ReplyDelete
  2. Selamat ya, mba Ayu. semoga jadi anak sholeh penyejuk hati orang tuanya. :)

    ReplyDelete
  3. Allhamdulillah...ikut s3nang dan berbahagia mbak Jade. Babynya lucuuuu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi mbak... Hihi.. Semua bayi lucuuu

      Delete
  4. Alhamdulillah cakep2 sekali anaknya mbak :). Jd inget operasi lahiranku juga, 2x sesar.. udh cukuplah, 2 aja, apalagi udh sepasang :D. Msh kebayang ngilu2 nya hihihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang kedua lebih asoy yaa ngilunya. Hihi..

      Delete
  5. Alhamdulillah lancar ya mba prosesnya. Suka banget liat Rafasya, bageur :) Semoga adik bayi kelak jd anak yang sholeh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski sesarnya terbilang lama, tp iya.. Alhamdulillah lancar. Aamiin.. Makasi yaa

      Delete
  6. wah selamat ya mba Jade Ayu...babynya cakep ...

    ReplyDelete
  7. Selamat mbak semoga jadi anak pintar soleh dam selalu sehat.

    ReplyDelete
  8. selamat ya Ayuu.. salut ih masih sempet post artikel.. enjoy motherhood yaah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Anin. Hihi.. Pas bayi tidur Mamak ngetik. Lumayanlah me time secuil..

      Delete
  9. Alhamdulillah. Selamat ya buyu dan keluarga. Membaca proses kelahiran itu bikin aku flashback waktu dulu, jd pengen mewek rasanya,hahaha. Sehat2 ya buyu dan arsel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Lisna. Cusslah hamil lagi. Hihi.. Aamiin, sehat2 jg ya kamu n keluarga

      Delete
  10. Rafasya lucu anet sih kamu nak. Sehat-sehat untuk Arsel dan Buyu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udh resmi nih jd abang dia.. Hihi.. Aamiin, makasi tante. Sehat2 jg ya u dikau dan keluarga..

      Delete