December 20, 2013

Gaul ala Mimi Mariani Rusli

Gaul.

Ada banyak definisi dari kata gaul. Nongkrong di kafe terbaru sembari ngobrol tentang film, Indonesia -  Hollywood  atau mungkin Bollywood pun boleh, yang paling baru beserta cerita paling baru tentang pemainnya menjadi hal yang jamak dilakukan. Window shopping ke brand merk terkenal sambil mencoba beberapa sepatu, tas atau pakaian dan akhirnya menenteng beberapa barang yang mungkin tidak terlalu diperlukan juga menjadi hal yang biasa terjadi. Atau hanya sekedar duduk di food court dan menikmati bubble tea dengan soundtrack curahan hati sahabat yang sedang patah hati. Aktivitas - aktivitas tersebut bisa dikatakan termasuk dalam definisi gaul ala masa kini.

Namun sebenarnya ada cara bergaul lain yang tidak kalah asyiknya lho..



Adalah Mimi Mariani Lusli, seorang wanita yang menerima vonis kebutaan total tepat disaat ulang tahunnya yang ke 17. Keadaan yang membuatnya tidak bisa menikmati anugerah Tuhan berupa penglihatan ini ternyata tidak menjadikannya terpuruk. Mimi justru semangat untuk mempelajari huruf Braile dan meneruskan sekolahnya hingga tamat S1. Namun, saat akan melamar kerja Mimi menemukan kesulitan. Kesulitan inilah yang akhirnya mendorong Mimi untuk mendirikan Mimi Institute. Ia ingin membantu teman-teman yang juga memiliki keterbatasan agar tetap bisa mendapatkan pekerjaan tanpa diskriminasi. Ia ingin teman - teman lain para penyandang disabilitas bisa memiliki keahlian yang diperlukan untuk mencari kerja dan bersosialisasi dalam masyarakat tanpa merasa minder. Melalui Mimi Institute ia melakukannya.


Mimi Mariani Lusli hanyalah wanita biasa. Yang luar biasa adalah Ia memiliki tekad dan ketekunan dalam meraih berbagai gelar pendidikan meski ia tak dapat melihat. Gelar Sarjana diperolehnya di IkIP Santa Dharma Jogja (1989), Master of Science di Universitas Indonesia (1997) dan Beasiswa dari British Council pun diraihnya sehingga ia bisa lulus dari program studi Master of International Communication di Leeds University - Inggris. Masih kurang gaul? Di tahun 1991 - 2003 Mimi mengajar tentang Metode Bergaul dan Berkomunikasi dengan Orang Cacat di Universitas Atma Jaya. Selain itu Mimi juga bergabung di berbagai organisasi penyandang tuna netra. Semua dilakukannya demi mewujudkan perubahan sikap bagi penyandang difabilitas maupun bagi masyarakat umum.

Promoting disability - maaf fotonya krg bagus






Perkenalan saya dengan Mimi Institute bermula dari perjumpaan saya dengan booth mereka di Mall Kalibata City Square. Awalnya saya tertarik untuk membeli beberapa bros yang mereka jual. Ternyata semua bros hand made yang mereka jual di booth tersebut adalah buatan sendiri. Jadi dengan berbelanja di booth tersebut secara tidak langsung kita sudah turut membantu mereka. Cara yang pintar bukan? Berbelanja sembari berdonasi. Disaat saya memilih bros inilah saya sempat berbincang sedikit dengan mbak yang menunggu booth, yang juga ternyata tuna rungu namun tidak memiliki kesulitan dalam melayani pelanggan seperti saya dan Rafa.



Dengan bermodalkan ngobrol dengan si Mbak, yang saya lupa menanyakan namanya, juga berbincang sejenak dengan pengurus Mimi Institute yang kebetulan ada di booth plus bertanya pada Om Google, Ada 3 Hal yang menjadi pilar Utama Mimi institute yaitu

1. Edukasi
Melalui seminar, workshop, pelatihan dan kursus kepada masyarakat umum dan juga kepada penyandang difabilitas, Mimi Institute mencoba mengenalkan dan merubah cara pandang masyarakat kepada penyandang difabilitas. Kerja sama dengan Binus university dalam Intensive Course on Disability Development misalnya, mengajak para peserta untuk merasakan menjadi penyandang difabilitas.





Diambil dari sini 


Mereka diberikan Kursi roda, penutup mata atau bahkan diberikan tali untuk mengikat salah satu anggota tubuh mereka. Setelah mengenakan Kursi roda, menutup mata dan mengikat anggota badan, para peserta diminta untuk berinteraksi dan beraktivitas seperti biasa. Hal ini dilakukan agar para peserta lebih merasakan apa yang dirasakan oleh penyandang difabilitas termasuk dalam Hal bersosialisasi. Karena disadari atau tidak, penyandang difabilitas kerap di pandang sebagai warga kelas dua. Hal - hal seperti inilah yang berusaha dibagi oleh Mimi Institute, agar masyarakat dapat membantu menghilangkan rasa minder / ketidakmampuan dalam diri penyandang difabilitas. Mimi Institute juga memberikan pelatihan berupa kelas menjahit atau membuat bros dari kain perca bagi para penyandang difabilitas. Hasil buatan mereka rapi dan cantik - cantik lho..




2. Konsultasi
Mimi Institute memberikan konsultasi untuk orang tua dari anak - anak berkebutuhan khusus agar dapat menemukan cara yang terbaik untuk dapat memenuhi kebutihan belajar mereka. Konsultasi juga diberikan pada penyandang disabilitas itu sendiri. Tak lain tak bukan untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka.

3. Publikasi
Secara berkala Mimi Institute menerbitkan bacaan - bacaan yang inspiratif dan informatif mengenai disabilitas melalui website, sticker, pamflet atau buku. Adanya pemberitaan mengenai aktivitas yang dilakukan oleh Mimi Mariani Rusli berkaitan dengan gelar yang diperolehnya atau dengan menjadi pembicara di seminar - seminar baik dalam maupun luar negeri menjadikan publikasi yang tak pernah putus dari Mimi Institute. Keikutsertaan Mimi Institute untuk membuka booth disaat ada pameran atau booth permanen seperti di Kalibata City Square juga merupakan bentuk publikasi lain tentang keberadaan Yayasan ini.

Semakin saya mencari tahu tentang Mimi Institute ini saya semakin kagum. Berhubung saya belum mampu mendirikan yayasan sejenis, saya hanya bisa membantu berdonasi sedikit dan menyebarkan informasi tentang mereka. Jadi ayo buat teman - taman yang mau ikutan workshop atau mau berdonasi bisa langsung dicek ke

Mimi Institute
@mimiinstitute
Facebook Mimi Institute
Nomer Rekening :Bank BCA a.n Yayasan Mimi Institute
                                 105.1500.941

Meski FB dan twitter mereka tampaknya belum diupdate lagi, tapi kegiatan Mimi Institute tetap berjalan kok. Coba cek di websitenya saja ya supaya lebih update.

 Yuks bantu teman - teman kita supaya sama - sama GAUL


Pada akhirnya, keberanian dan ketabahan Mimi Mariani Rusli dalam menjalani hidupnya dan mendirikan serta mengembangkan Mimi Institute lah yang membuat saya mengangkat cerita tentang Mimi Institute ini.Saya tahu mungkin di luar sana Ada banyak sekali orang - orang berhati mulia yang memilih untuk mengumpulkan Semua sumber daya dan mulai melakukan sesuatu ketimbang hanya duduk diam dan menyerahkan semua pada instansi misalnya. Saya sangat menghormati mereka semua. Tapi sebuah perkumpulan yang membantu kaum difabel? Masih jarang rasanya. Saya merasa sangat bangga bisa menghadirkan Mimi Institute di blog saya. Semoga Tuhan memperbanyak orang - orang berhati mulia seperti mereka. Orang - orang yang menurut saya Gaul dengan cara mereka sendiri. Bagi mereka Gaul berarti bisa bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Ya itulah Gaul ala Mimi Institute..
Gaul ala Mimi Mariani Lusli..

Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel


3 comments:

  1. Wow, luar biasa. Sangat mulia Mimi Institute nih. Membaca tulisan ini saya jadi makin bersyukur dan malu belum banyak berbuat untuk sesama. Semoga para relawan atau donatur senantiasa diberi kemudahan. Salam kenal dan semoga menang ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya... memang bikin qta merasa malu skaligus bersyukur bgt diks anugerah Tuhan punya tubuh yg lengkap yaa.. salam kenal jg, makasi udh mampir..

      Delete
  2. Salam kenal.. :)
    Mampir kesini dan membaca tulisan ini..
    Mimi institute ini emang hebat yaa mbaa.. :) salut deh..
    Btw,ak tinggal di KCS loh mbaa..mbaa tinggal dekat KCS kah?
    www.minesmore.blogspot.com

    ReplyDelete