September 20, 2016

Pengalaman Kejang Demam Pada Anak Bujang Kesayangan Kami

Rasanya baru dua hari yang lalu saya membaca di grup whatsapp ada anak teman baik saya yang kejang. Karena membaca berita itu, saya pun langsung Googling sekilas tentang kejang pada anak. Qadarullah, Selasa 23 Agustus 2016 menjelang subuh saya yang diberikan kejutan oleh Allah. Anak saya kejang.

Rafasya demam 

Kurang lebih sekitar 2 hari menjelang berkurangnya jatah hidup si anak bujang, ia mengalami diare. Sampai hari lahirnya di 12 Agustus ia masih diare, namun makan minum tetap seperti biasa dan aktif bagai bola bekel. Saya hanya memberinya lacto B dan buah pisang. Diarenya pun sekitar 3x sehari dengan tekstur agak lembek, namun tidak cair. Pada hari ke 8 diare mulai menghilang dan tekstur pup kembali seperti biasa. Alhamdulillah.


Wiken 20 - 21 Agustus berjalan seperti biasa. Kami menginap di rumah kakek nenek lalu Rafasya ikut menghadiri acara di daerah Kemang bahkan minggu masih sempat play date di Museum. Senin, 22 Agustus si anak bujang kesayangan ayah bunda ini pun bersekolah seperti biasa, setelah menjelang subuh bangun sejenak karena ayahnya harus berangkat dinas keluar kota. Di sekolah ia sempat membagi - bagikan stiker beragam bentuk mobil pada semua teman sekelasnya. Sampai di rumah, kami menikmati makan siang, tidur dan sekitar jam 16.30 Rafasya main bersama teman - teman di depan rumah. Berlarian dan main sepeda sampai basah kuyup. Menjelang maghrib acara bermain pun selesai dan waktunya mandi sore. Saat mandi pun masih biasa saja. 

Saat sedang menghanduki Rafasya, ia berucap
" Bunda, kipasnya kecilin dong. Rafa kedinginan " Sambil menggerakkan bibir seperti orang kedinginan. Karena heran akan permintaannya saya pun berkata 
" Tumben Nak. Itu kipas No 1 kok dan ke atas juga arahnya. Jadi nggak kena Rafasya. Rafa beneran kedinginan?"
" Iya bunda. Langsung pakai baju tangan panjang aja deh ya Bunda. " Biasanya sehabis mandi sore Ia memakan celana panjang untuk tidur dan kaos tangan pendek, nanti sekitar jam 9 baru berganti baju ke baju tangan panjang karena akan tidur. Maklum, anak saya ini super aktif. Bisa lho sebelum tidur mandi lagi karena basah kuyup oleh keringat. 

Setelah memakaikan baju saya pun mengambil termometer, 38.5 suhunya. Oke mari kita makan malam dulu. Biasanya saya baru memberikan obat penurun panas saat suhu Rafasya sudah di atas 38.5 atau anaknya terlihat lesu. Hal ini sudah saya lakukan sejak Rafasya berusia 2,5 tahun kalau tidak salah. Karena Alhamdulillah selama ini demam sampai 39 (yang tentunya sudah saya berikan obat penurun panas) pun anaknya tetap aktif. Saya memang berusaha meminimalkan obat yang masuk ke tubuh keluarga. Obat penurun panas yang saya kenal pun hanya Sanmol. Namun kali ini Rafasya terlihat agak lesu. Ditambah lagi ia hanya mau minum air putih dan nggak mau makan plus diare pun kembali datang dengan tekstur cair. Akhirnya saya berikan biskuit dan Sanmol sekitar pukul 18.10. Kemudian si anak bujang hanya tiduran di sofa. Hmm, sakit anak ini. 

Sebelum saya mengetahui Bahwa saya hamil, Rafasya pernah demam. Ceritanya ada disini. Dari buku dokter Rafasya ada satu merk obat penurun panas yang bisa diberikan selain Sanmol. Saat pukul 18. 40 saya kembali mengukur demamnya 38.8 . Lho, kok semakin naik? Saya pun memutuskan untuk pergi ke apotek di dekat rumah dan mencari obat penurun panas yang sudah diberi tahu oleh dsa Rafasya, Naprex nama obat penurun panasnya. Si anak bujang pun nggak mau ditinggal dan minta ikut. Setelah membeli obat, Rafasya minta bakso. Nggak papa deh sekali - sekali, yang penting ia makan malam. 

Sampai di rumah ia mau makan bakso 2 buah dan nasi sedikit. Duh, bukan Rafasya ini. Untuk yang sudah kenal Rafasya pasti tahu, porsi makan anak saya ini sejak 3 tahun sudah seperti porsi makan dewasa. Jadi kalau dia nggak mau makan atau porsi makannya berkurang, sudah bisa dipastikan ia sedang nggak enak badan. Setelah makan sekitar jam 8 malam saya kembali ukur suhunya, 38.9. Setelah whatsapp an dengan dsa saya diminta menunggu 3 jam untuk memberikan Naprex. 

Jam 9 malam saya menelepon suami kemudian Rafasya cerita kalau dia sedang demam. Setelah menelepon Ayahnya jam 9.20 saya berikan Naprex setelah saya ukur suhunya 39.2 kemudian masuk kamar dan tidur. Selama ia tidur saya mulai mengompresnya. Setiap 30 menit saya periksa suhunya. Sampai jam 22.30 demamnya masih di antara 39  - 39.5. Saya mulai membereskan baju Rafasya dan baju saya ke dalam tas. Saya berniat menunggu hingga pukul 00.00 untuk mengecek suhu, jika sudah turun kami akan ke dsa esok harinya. Karena menunggu obat penurun panasnya bereaksi. Jika masih demam saya akan langsung ke IGD. Saat tengah malam tiba demamnya mencapai 39. 7. Oke meluncurlah kami ke IGD pukul 00.30. Sekitar pukul 1 lebih sedikit kami sampai, langsung dicek suhu yang ternyata mencapai 39.9. Setelah mendengar kronologi demam Rafasya pukul 1.15 diberikanlah penurun panas yang dimasukkan lewat (maaf) anus. Sambil diperiksa mata, hidung, telinga, tenggorokan dan juga pemeriksaan standar menggunakan stetoskop saya ditanyakan apakah Rafasya ada alergi, ada riwayat kejang demam, ada muntah, apakah diarenya ada darah yang jawaban untuk semua pertanyaan itu adalah tidak. Setelah dokter jaga berkonsultasi via telepon dengan dsa Rafasya, kami pun keluar dari IGD dengan dibekali obat radang tenggorokan dan obat penurun panas yang dimasukkan dari anus jika demamnya di atas 39.5. Keluar dari IGD saya menuju kasir untuk mengambil obat dan melakukan pembayaran. Saat menunggu, sekitar pukul 1. 30 Rafasya mengajak saya ke kamar mandi, ternyata ia ingin pup, diare yang masih cair. Setelah selesai dari kamar mandi. Saya kembali ke ruang IGD dan memberi tahu dokter jaga sekaligus bertanya apakah perlu diberikan obat penurun panas lagi karena Rafasya baru saja diare. Menurut dokter jaga tidak perlu karena sudah 15 menit seharusnya obat sudah terserap. Kalau ingin memberikan obat penurun panas harus menunggu  3 jam lagi. Baiklah. Kami pun tiba di rumah sekitar pukul 2 kurang. Rafasya yang sudah tidur di mobil pun melanjutkan tidurnya kembali. Setelah mengganti baju, saya sempat ngemil dan baru mematikan lampu sekitar pukul 2.30. Saya pun tidur sambil memeluk Rafasya yang suhunya 38.7. Alhamdulillah menurun.

Rafasya Kejang

Pukul 3.30 saya terbangun karena merasa ada yang bergerak - gerak di samping saya. Ternyata Rafasya yang bergerak- gerak. Sambil berjalan menyalakan lampu saya bertanya "Rafasya kenapa Nak, kedinginan ya? " Saat lampu menyala saya pun menyaksikan Rafasya si anak bujang kesayangan kami ini sedang kejang. Astaghfirullahaladzim.. Tangannya menekuk dan mengepal ke arah dada, kakinya setengah menekuk, badannya kaku, mulutnya tertutup dan matanya ke tengah. Astaghfirullahaladzim.. Tetiba saya kuat menarik badan Rafasya yang posisinya di tengah tempat tidur ke arah saya sambil memanggil namanya. Tidak ada respon, Rafasya tetap kejang. Saya pun melepaskan Rafasya dan berlari ke lantai 2 membangunkan ART untuk memintanya membangunkan satpam dan membuka gerbang kompleks. Kemudian saya lihat mulut Rafasya mengeluarkan busa. Sempat saya ukur suhu 39.9. Astaghfirullahaladzim.. Ya Allah.. Saya coba meninggikan kepala agar muntahan atau busanya tidak balik tertelan. Secepat kilat saya memakai gamis, mencoba memberinya minum yang sedikit disedot melalui sela - sela gigi Rafasya dan Naprex yang hanya sedikit yang tertelan, menyambar jilbab dan kunci mobil. Kejadiannya nggak sampai 5 menit. Setelah masuk mobil saya pun berusaha menyetir secepat mungkin ke IGD. Rafasya sudah tidak kejang namun posisi tubuhnya tidak bergerak di kursi depan penumpang. Tangan kiri saya menggenggam tangan kanan Rafa yang masih saja ingin mengepal dan matanya hanya melihat ke atas, tangan kanan di atas kemudi. Saya coba mengajak bicara ia hanya melirik ke saya. Mbak ART duduk di belakang memegang tangan kiri Rafa sambil saya minta memperhatikan mata Rafasya. Lampu di dalam mobil pun saya nyalakan. Qadarullah di daerah rumah saya ada pasar dan jam 3.30 pagi jalanan mulai ramai. Sepanjang perjalanan ke IGD saya nggak mengerem bahkan untuk polisi tidur dan rel kereta. Saya setengah berteriak memanggil nama Rafasya dan memintanya untuk istighfar memohon kesembuhan dan keselamatan pada Allah. Terus berusaha mengajak bicara sambil beristighfar. Entah berapa kecepatan saya, yang pasti bermodal klakson dan lampu dim 15 menit saya pun sampai di IGD. Saat akan turun Qadarullah Rafasya bicara " sandal Rafa mana Bunda ?" Ya Allah... Alhamdulillah anak saya bisa merespons saya. 

Dengan satpam RS yang berlari ke arah kami, jam 3. 50 Rafasya sudah dibaringkan di tempat tidur IGD dan diukur suhu 39.5 kalau tidak salah. Dokter jaga dan suster berkali - kali mengulang pertanyaan yang sama "Ibu yakin anak ibu kejang bukan menggigil kedinginan ?" Ya saya yakin. Saya pun kembali menjelaskan posisi tangan dan kaki Rafasya. Suster mulai mengompres sambil menunggu batas waktu 3 jam untuk pemberian obat penurun panas. Saya beritahukan tadi saya sempat berikan minum dan Naprex sedikit. Setelah kembali berkonsultasi lewat telepon dengan dsa Rafasya, akhirnya diputuskan Rafasya harus dirawat. Meski baik dsa maupun dokter jaga sedikit heran kenapa Rafasya bisa kejang karena usianya yang sudah melewati 5 tahun seharusnya sudah tidak ada kejang demam pada anak lagi. Dugaan sementara karena diarenya. Proses pengambilan darah pun berjalan lancar karena Rafasya sudah pernah menjalaninya. Lain cerita dengan proses pemasangan selang infus yang agak sulit. Awalnya ingin dipasang di tangan kanan namun tidak berhasil, akhirnya pindah ke tangan kiri. Rafasya menyaksikan semua prosesnya dengan relatif tenang karena ternyata tidak semakin yang ia bayangkan. Sebelumnya ia menangis dan meminta pulang karena mengira akan lebih sakit daripada diambil darah. 

Setelah proses administrasi, pukul 5 pagi kami sudah berada di kamar perawatan. Saat duduk di kamar dan menyaksikan Rafasya tertidur dengan selang infus, kejadian Rafasya kejang pun seperti terulang lagi. Suami yang sedang diluar kota saat saya hubungi pun seketika langsung menangis. Terdengar dari suaranya. Saat menutup telepon dari suami, sambil memperhatikan Rafasya yang terlelap tidur barulah saya menangis. Ya.. Saya baru sempat menyalurkan air mata saya saat itu. Betapa saya sangat menyayangi si anak bujang saya ini. Betapa saya takut sesuatu yang tidak saya inginkan terjadi pada dirinya. Saya baru sempat merasakan betapa perut saya kencang, mungkin karena saya tegang. Mungkin si adek di dalam perut ikut tegang karena guncangan akibat saya berlari dan tidak menginjak rem. Alhamdulillah Allah masih memberikan saya kekuatan dan pikiran yang tenang serta kaki yang masih mampu menginjak pedal gas sampai ke Rumah Sakit. 

Setelah mellow sejenak, saya bertanya ke bagian administrasi Rumah Sakit mengenai kamar yang berisi 1 pasien saja. Karena bagaimana pun saya juga harus istirahat, sementara kamar yang Rafasya dapatkan adalah kelas 2 yang berisi 2 pasien. Terpaksa saya ambil karena semua kamar penuh, bahkan VIP. Meski saya bisa tidur berdua Rafasya namun tetap saja saya ingin pindah kamar. Alhamdulillah di sore hari setelah kunjungan dsa, ada kamar kosong dan Rafasya pun pindah. Menurut dsa, dari hasil cek darah ditemukan bahwa bakteri yang ada di tubuh Rafasya sangat tinggi. Hal ini lah yang menyebabkan dia demam sampai kejang. Jadi kejang demam yang dialami Rafasya adalah kejang demam akibat diare. Sejak di IGD memang suhu tubuh Rafasya masih diatas 38.5. Jadi pertolongan yang dilakukan adalah memasukkan infus yang berisi cairan juga antibiotik yang diberikan selama 8 jam sekali selama 2 hari selain obat penurun panasnya. 

Malam pertama di ruang perawatan Rafasya masih diare dengan tekstur cair. Suhu tubuhnya juga belum di bawah 38.5.masih naik turun. Bahkan saat menjelang subuh di hari Rabu ia sempat menggigil kedinginan. Alhamdulillah Rafasya mau minum meski makannya jauh berkurang. Jadi karena banyak minum dan ada cairan infus juga, setiap 2 jam ia akan terbangun dan ke toilet. Kelihatan sekali ia sakit. Diam saja, wajahnya sendu dan agak merah. Namun ia tetap nggak mau pipis di pispot, "mau ke toilet saja Bunda. " 

Malam kedua, suami sudah datang dari luar kota yang mana seharusnya ia pulang di hari Jumat. Alhamdulillah suhu tubuh Rafa mulai mencapai 38. Masih terhitung demam, jadi obat penurun panas pun tetap diberikan setiap 4 jam sekali. Diare dengan tekstur cair pun masih cukup sering.  Saya sempat bertanya pada dsa, kenapa masih demam. Jawaban dsa pun sesuai dengan perkiraan saya, tubuhnya sedang berusaha melawan. Jadi memang demam masih ada, itulah penyebab kenapa antibiotiknya diberikan selama 2 hari. Rabu malam sampai Kamis dini hari berangsur - angsur demamnya mulai turun dan Rafasya mulai ceria. Malah cenderung bosan di tempat tidur saja. 

Alhamdulillah Kamis pagi sampai Jumat pagi, suhu tubuh Rafasya sudah di antara 36 sampai 36.7. Syarat observasi 2 hari plus tidak demam selama 24 jam pun terpenuhi. Jumat selepas maghrib Rafasya diizinkan untuk pulang dengan meneruskan obat diare dan antibiotik yang harus dihabiskan karena diare masih berlangsung namun frekuensinya jauh berkurang. 

Apa yang menyebabkan Rafasya kejang?

Dari pemeriksaan darah dan observasi selama 2 hari dsa menyatakan bahwa kejang yang dialami oleh Rafasya disebabkan oleh diare akibat banyaknya bakteri di dalam tubuh dan mengakibatkan demam tinggi. Insya Allah tidak akan terulang lagi. Yang harus diwaspadai adalah kejang yang terjadi pada anak akibat demam tinggi saja. Ternyata setelah saya ingat - ingat memang sebelum kejang Rafasya menunjukkan beberapa tanda kejang demam akibat diare. Kurang lebih ini tanda - tandanya : 

1. Tiba - tiba diare dengan tekstur cair dengan frekuensi yang sering 
2. Anak menjadi lesu dan tidak berselera makan
3. Mengeluh kaki dan tangannya pegal- pegal 
4. Demam tinggi dan tidak kunjung turun meski sudah diberi penurun panas biasa 

Jadi dari pengalaman ini saya belajar bahwa disaat anak kejang sebaiknya kita orang tua :

1. Berusaha untuk tidak panik
2. Berdoa
3. Longgar kan baju jika sekiranya bajunya terlalu ketat
4. Tinggi kan kepala untuk mewaspadai adanya cairan yang keluar dari mulut supaya tidak tertelan lagi
5. Jangan masukkan benda apa pun ke mulut anak. Jaman dahulu biasanya orang tua akan memasukkan sendok untuk menjaga mulut anak tetap terbuka. Jangan lakukan hal ini.
6. Jangan memaksa meluruskan tangan dan kaki saat anak kejang. Tunggu sekitar 2 - 3 menit, seharusnya kejang akan berhenti.
7. Segera bawa ke rumah sakit untuk diobservasi lebih lanjut. 

Alhamdulillah di sela - sela kekagetan dan tentunya rasa panik yang melanda saya saat Rafasya kejang, saya masih bisa berfikir dengan jernih. Panik pasti akan langsung mendera jika melihat buah hati kita ada dalam kondisi yang secara kasat mata belum pernah dialaminya. Namun berusaha tenang adalah kuncinya. Saya belajar tentang apa yang sebaiknya kita lakukan saat anak mengalami kejang demam dari pengalaman ini. Ahh.. Semoga nggak terulang lagi ya Nak pada dirimu atau adikmu kelak. Semoga pengalaman kejang demam akibat diare yang saya alami ini bisa menjadi contoh pada semua orang tua di luar sana, semoga buah hati kita sehat selalu ya.

Oh ya, untuk teman - teman yang sedikit "protes" kenapa kami tidak mengabari atau menuliskan status di sosmed mengenai keadaan Rafasya, dengan tulisan ini kami mengucapkan terima kasih atas doa dan perhatian kalian semua. Saya dan suami memang bukan orang yang suka menjadikan sosmed sebagai "buku harian" kami. Terlebih saat sakit dan harus dirawat, kami percaya bahwa obat terbaik untuk Rafasya adalah istirahat dan mendapatkan perhatian penuh dari kami. Namun, terima kasih banyak atas perhatian dan doa teman - teman semua ya. Alhamdulillah sekarang Rafasya sudah sehat kembali. 




16 comments:

  1. Alhamdulillah Rafasya udah ngga demam lagi ya Ayu... Anak panas apalagi plus demam emang bikin bingung & panik. Info handle anak kejang berguna banget disimpen buat jaga2 :) Semoga sehat terus ya Rafasyaaa...

    ReplyDelete
  2. Jangan panik paling bener buyu, kalo orangtuanya panik jadi berantakan banget dan ngefek ke anaknya. Alhamdulillah Darell belum pernah kejang sih, tapi tips ini kepake banget buyu. Hopefully anak-anak kita sehat sehat semua yaaa. Salam buat Rafasya dari Darell :)

    ReplyDelete
  3. Kalau anak saya pernah pingsan Mbak. Akhirnya dirawat di RS 2 malam. Sedihnya lihat dia harus diinfus. Waktu itu umurnya belum 2 tahun. Semoga cepat pulih cepat sehat ya Rafasya.

    ReplyDelete
  4. Kuncinya jangan panik yah kak Ayu :'D Untung ada ibu siaga. Makasih udah sharing pengalamannya :)

    ReplyDelete
  5. Benar bu Yu, yg penting jangan panik, jangan masukin apapun ke dalam mulut dan jangan coba ngelurusin. Soalnya aku pernah dapat pasien yg akhirnya jadi aspirasi lah, patah tulang lah.. Kan jadi nambah masalah, hee

    ReplyDelete
  6. Benar bu Yu, yg penting jangan panik, jangan masukin apapun ke dalam mulut dan jangan coba ngelurusin. Soalnya aku pernah dapat pasien yg akhirnya jadi aspirasi lah, patah tulang lah.. Kan jadi nambah masalah, hee

    ReplyDelete
  7. Waaaaah, keponakan saya dl juga pernah mengalami hal yg hampir mirip dg Rafasya Mbak. Demam, muntah, masuk rumah sakit trus mencret2. Huuhu
    Mg Rafasya sehat selalu yaa :))

    ReplyDelete
  8. Sama banget kejadian nya ky Lea kmrn itu Buyu.. Sampe stress kita, bakteri nya tinggi juga, pdhl klo dipikir2 ini anak jarang keluar huhuhuhu. Namanya penyakit yah pasti ada aja.

    Btw semoga anak2 kita sehat2 selalu yahhhh ��

    ReplyDelete
  9. Sehat terus ya Rafa dan adiknya Rafa. Yang soal ga share di status, gw jg memilih untuk "kalem" aja sih dan fokus untuk kesehatan yang sakit dulu supaya cepat sembuh.

    ReplyDelete
  10. Kadang sebagai orang tua baru kita suka panik emang wajar sih ya


    Budy | Travelling Addict
    Blogger abal-abal
    www.travellingaddict.com

    ReplyDelete
  11. Kadang sebagai orang tua baru kita suka panik emang wajar sih ya


    Budy | Travelling Addict
    Blogger abal-abal
    www.travellingaddict.com

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah Rafa udh sembuh. Adik saya jg prnah kejang kaya gt mbk

    ReplyDelete
  13. Saya bacanya ikutan panik, mba. Semoga anak2 kita selalu diberi kesehatan ya. Nggak ada kata yang pas rasanya untuk mendeskripsikan hati ibu yang lihat anaknya sakit.

    Salam kenal ya mba Ayu

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah, Rafa lebih baik sekarang, ya. Dulu, saya tuh yang lumayan sering kejang. Makanya ketika punya anak, mamah saya yang paling sering wanti-wanti. Alhamdulllah, anak-anak saya belum pernah kejang. Bersyukur juga selalu ada mamah. KEbayang kalau sampai kejadian mungkin saya bakal panik. Padahal gak boleh, ya

    ReplyDelete
  15. Ayuuu, gw bacanya deg2an sampe nangsi dikit ngebayangin betapa tegangnya elo sama ART saat itu. Alhamdulillah Rafa sudah gak apa2 yaa... Makasih ya tips-nya.., gw orangnya panikan soalnya :(

    ReplyDelete
  16. Ya Allah aku ikut deg-degan. Kalau riwayat kejang ini memang jadi catatan tersendiri. Semoga Rafa sehat-sehat yaa

    ReplyDelete