March 7, 2015

Antara Sel Punca (Darah Tali Pusat) dan ITP ( Idhiopatic Trombositopenyc Purpura)

Kenapa tiba - tiba saya ingin menulis mengenai penyimpanan sel punca? Sebelum bercerita tentang sel punca lebih jauh, saya mau bercerita tentang alasan saya mengangkat tema ini terlebih dahulu.

Disclaimer : 
Tulisan ini bakalan lumayan panjang dan agak serius. Silakan mengambil cemilan terlebih dahulu. Hihi..

Sejak mengetahui bahwa saya hamil, ada rasa khawatir dalam diri saya. Bukan tanpa alasan karena dulu sewaktu saya berusia 10 tahun, tahun 1994 akhir saat duduk di bangku SD, saya sempat terkena penyakit ITP ( Idhiopatic Trombositopenyc Purpura).

ITP adalah penyakit autoimun, yang membuat jumlah keping darah merah atau biasa dikenal dengan trombosit turun tiba - tiba. Saya masih ingat sekali kejadiannya. Awalnya saya yang sudah tidur sendiri, sekitar pukul 2 dini hari saya mengetuk pintu kamar mama dan papa karena saya demam dan ujung - ujung jari saya mati rasa. Papa dan mama langsung melarikannya saya ke Klinik terdekat, sampai ke klinik terdekat ternyata klinik tersebut langsung menyarankan agar saya segera dibawa ke rumah sakit besar. Orang tua saya langsung membawa saya ke RSPI dan saya didiagnosis terkena Demam Berdarah Dengue. Dirawat selama beberapa hari dengan beragam obat kok trombosit saya, yang masih kelas 5 SD, tidak kunjung naik. Setelah diberikan obat DBD yang lebih kuat akhirnya trombosit saya mulai naik, 10 hari kemudian dinyatakan sehat sehingga boleh pulang. 3 hari di rumah, saya pun bosan. Saat teman saya mengajak bermain sepeda saya pun menyanggupinya. Ternyata malamnya saya kembali demam tinggi dan langsung dilarikan ke RSPI lagi.





Saat tiba di RSPI saya langsung mendapat perhatian baik dari suster UGD atau pun suster ruangan anak. Jelas, karena saya baru saja keluar dari rumah sakit. Saat diperiksa ternyata trombosit saya sudah di bawah normal. Setiap 3 jam saya diambil darah. Ternyata, trombosit saya semakin turun hingga tinggal 5000. Saat itu barulah dokter anak yang menangani saya mencurigai saya terkena ITP, yang pada masa itu masih jarang. Sebagai penanganan pertama karena trombosit saya sudah terlalu rendah, saya diberikan transfusi trombosit sebanyak 10 kantong. Mama yang sedang mengandung adik perempuan saya yang paling kecil sangat sedih, tanpa terkecuali papa.

Dokter anak yang merawat saya waktu itu, dr. Karel Staa, menyebutkan bahwa seharusnya saat trombosit seseorang tinggal 5000 orang tersebut akan mengeluarkan darah dari semua lubang di tubuhnya. Saya? Alhamdulillah saya masih bisa ketawa - ketawa. Semua keluarga dan kerabat orang tua saya satu per satu datang menjenguk saya. Di usia saya yang 10 tahun, saya betul - betul merasa bahwa semua orang mengkhawatirkan saya akan meninggal. Wajar. Karena, dari sedikit anak - anak penderita ITP yang ada pada saat itu sebagian besar meninggal. 

Entah obat apa yang diberikan oleh dokter Karel , yang pasti sekitar 2 minggu kemudian setelah pengambilan darah setiap 3 jam sekali, trombosit saya perlahan - lahan naik dan tetap berada di batas normal. Iya, nggak salah baca kok. Setiap 3 jam sekali saya diambil darah untuk diperiksa jumlah trombosit, leukosit, eritrosit dan teman - temannya. Suster yang mengambil darah saya sampai nggak tega. Meski jarum suntik yang digunakan sudah yang paling tipis, pakai Wings istilahnya waktu itu, atau dengan cara dijepret di ujung tangan, tetap saja membuat lengan, punggung tangan dan ujung - ujung jari saya membiru. Penderita ITP dikenal di sekujur badannya mudah biru - biru seperti kepentok sesuatu.

Dari suster di RSPI, mama saya disarankan untuk membawa saya ke dr. moeslichan seorang ahli darah di daerah Cipete. Saat pertama kali berkunjung ke dr. Moeslichan, saya belum mendaftar, tapi saat menyebutkan nama penyakit ITP saya langsung disuruh masuk oleh suster yang bertugas setelah pasien di dalam keluar. Sedemikian beratnya ITP itu. Setelah konsultasi pertama saya dijadwalkan harus berkunjung setiap minggu untuk diambil darahnya supaya bisa dipantau dan diberikan obat. Dari dr. Moeslichan juga kami mengetahui bahwa ITP itu ada yang akut, ada pula yang tidak. Itulah sebabnya mengapa saya harus konsultasi setiap minggu untuk mengetahui saya termasuk ITP yang mana.

Bulan demi bulan berganti, akhirnya jadwal konsultasi saya berkurang. Dari setiap minggu, 2 minggu sekali, 3 minggu sekali hingga akhirnya menjadi 1 bulan sekali. Saat itu selama kurang lebih 6 bulan saya harus mengkonsumsi obat yang bernama pretnison sebanyak @ 5 butir 3x sehari. Pretnison berhasil mempertahankan daya tahan tubuh saya, namun juga sukses meningkatkan napsu makan saya sehingga akhirnya membuat berat badan saya melonjak drastis. Saat keluar dari rumah sakit BB saya 35kg, dalam waktu 3 bulan sukses membuat BB saya bertengger di angka 61kg. Saya sempat 2 tahun minum susu kuda liar Sumbawa setiap hari. Berkunjung ke pengobatan alternatif dengan cara pijat , yang sakitnya luar bisaaa padahal kaki saya hanya disentuh, semua demi kesembuhan saya. Dari 1 tahun konsultasi dengan dr. Moeslichan saya akhirnya dimasukkan sebagai penderita ITP yang tidak akut. Sejak Kelas 2 SMP hingga sekarang, Alhamdulillah trombosit saya sudah tidak pernah di bawah 100 ribu meski jarang mencapai 150 ribu. ITP telah membuat saya kehilangan seorang sahabat sesama penderita ITP bernama Ifa. Sahabat saya ini penderita ITP akut, dan ia pergi meninggalkan kami saat jatuh di kamar mandi.

ITP telah mengajarkan saya begitu banyak hal. Lebih menghargai hidup tentunya. Oleh karena itu saat saya dinyatakan hamil, saya langsung bercerita mengenai penyakit ITP. dr. Nana Agustina obgyn saya, langsung merujuk saya ke Prof. djumhana demi kelancaran kehamilan saya sampai melahirkan. 

Fiuh.... Capek nggak bacanya? Monggo cuci muka dulu. :D

Duet maut saya dengan ITP inilah yang membuat saya dan suami memutuskan untuk menyimpan sel punca bayi kami jika lahir. Prof. Djumhana menyatakan bahwa ITP itu bukanlah penyakit keturunan namun kemungkinan setiap bayi terkena ITP tetap ada, meski sangat kecil. Karena itu untuk berjaga - jaga, kami memutuskan untuk menyimpan sel punca anak pertama kami, Rafasya. 

Cerita tentang penyimpanan sel punca Rafa bersambung dulu yaa...