December 8, 2015

Tentang Berkendara di Jalanan, Kamu Termasuk yang Mana?

Sejak Rafasya resmi menjadi anak sekolah, maka saya pun resmi menyandang status sebagai supir pribadinya. :D Alhamdulillah dulu pada saat suami dinas sebulan saya sempat melancarkan kemampuan menyetir mobil. Sebenarnya dulu jaman kuliah sudah pernah les menyetir, namun karena malas jadi akhirnya lupa lagi deh.

Asal muasal malas nyetir sendiri juga karena semasa pacaran ( duh, jangan ditiru yak adek2 abegeh. Pacaran mah ga bener. Taaruf aja terus langsung nikah yak. #edisisolehah) kan udh ada si pacar yang nyetir. Padahal ya, kan si pacar juga capek ya. Emang dasar saya adalah yang malas. Di rumah juga sama, adik - adik saya yang super hebat malah sudah bisa menyetir lebih duluan dari pada saya. Makin malas deh kan jadinya.

Tapi semuanya berubah sejak saya memiliki Rafasya dan sudah nggak kerja. Semasa tinggal di rusunami tercinta, saya mulai berada di balik setir meski hanya memindahkan parkiran mobil ke posisi yang lebih aman. Aman dari parkiran paralel yang maha dahsyat efeknya ke bemper depan dan belakang mobil. Maka mulailah saya sedikit demi sedikit menginjak gas, rem dan juga kopling. Jangan tanya rasanya, tanpa supervisi dari suami, ditemani bayi berusia 1 tahunan di car seat, jarak 500 M saja bisa terasa seperti menyetir sejauh 50km di gang yang super sempit. Lebay? Ehhh, coba situ ingat - ingat gimana rasanya pas pertama kali nyetir sendiri. Sudah ingat? Tambahkan satu bayi duduk di car seat. Nah.. Mantap kannn..

Sekarang, demi memudahkan saya menjadi supir (dan juga melipir ke sana kemari ) suami setuju untuk mengganti mobil dari manual ke matic. Hasilnya? Makin lancar jayalah saya menyetirnya. Bahkan mulai terlalu lancar, karena saya bisa pergi dari ujung ke ujung berdua Rafasya. Hihi.. sejak mulai menjadi supir ini, saya mulai merasakan banyak sekali jenis pengendara di jalan. Sebagian besar dari mereka itu adalah pengendara yang . . .








super mengganggu bin nggak tertib alias hobi melanggar peraturan binti menyebalkan. Mau itu pengendara Mobil, pengendara Motor, pengendara Truk, pengendara Metromini bahkan sampai pejalan kaki. Serius. Sebagian besar pengguna jalan raya yang ada di Jakarta ini tampaknya betul - betul sudah nggak tertib ya? Coba deh sebutkan kesalahan yang sering dilakukan pengguna jalan..

Menerobos lampu merah? Banyak
Belok tanpa lampu sein? Banyak banget
Berhenti di dekat atau bahkan tanda dilarang berhenti? Super banyak
Menelepon atau sms sambil mengemudi? Amat sangat banyak (Ehem, termasuk saya sih kalo lagi macet. Jewer kuping sendiri) 

Saya jadi bertanya - tanya, apakah memang warga kita ini sudah betul - betul nggak tahu peraturan ya? Beberapa kesalahan yang saya sebutkan di atas itu, dilakukan oleh semua pengendara loh. Rambu sudah ada, peraturannya jelas lalu kena masih melanggar? Pertanyaannya, kamu termasuk pengendara yang mana?

Catatan : 
maaf tulisannya agak serius. Tapi asli saya bosan banget melihat ada banyak orang yang hobi melanggar peraturan saat menggunakan jalan raya. Terakhir yang baru saja terjadi adalah kasus Metromini menerobos palang pintu yang mengakibatkan belasan nyawa melayang. Itu apa sih yang dicariiii.. Bukankah kalau tertib dan teratur, semuanya akan menjadi lebih baik?