February 17, 2016

Pengalaman Pertama Demam Pada Anak

Holaa...
Mau cerita nih, tentang pengalaman pertama demam pada anak yang sampai harus berkunjung ke dokter.  Jadi sekitar 3 minggu yang lalu Rafasya demam naik turun selama 3 hari. Namun setelah ke dsa dan cek darah tidak ada yang aneh, jadi tidak diberi obat. Malah sepulang dari dokter demamnya hilang. Namun 1 minggu yang lalu Rafa kembali demam disertai batuk pilek. Biasanya kalau Rafa batuk pilek plus demam hanya saya berikan Sanmol saja. Obat yang selalu ada di kotak obat saya. Namun setelah hari kedua diberikan Sanmol kok demamnya nggak juga hilang. Kalau yang udah - udah , 2 - 3 kali pemberian penurun panas demamnya sudah kabur hanya tinggal batpilnya. Kalau batpilnya sih memang sejak lepas ASI nggak pernah saya kasih obat. Dibiarkan saja sampai akhirnya hilang, paling dilawan dengan berjemur dan minum air lemon hangat lebih sering selain minum madu. 

Namun kali ini, kok semua Home Treatment tadi ditambah obat penurun panas nggak berhasil juga. Jadi kalau pun turun demamnya, nanti akan naik lagi. Jadi selama 3 hari itu demamnya terkontrol dengan obat. Karena khawatir dengan banyaknya penyakit yang sedang muncul, maka saya memutuskan untuk membawanya ke dokter. Saat diperiksa di dokter anak di BIC, ternyata demamnya sampai 39,8 jadi langsung diberikan proris lewat (maaf) bokong. Karena nggak ada gejala yang menunjukkan gejala demam berdarah seperti bercak merah, sakit di ulu hati atau gejala Tipes seperti mual, muntah dan diare maka Rafa hanya diberikan obat batpil saja tanpa antibiotik.

Perdana nih, berkunjung ke dokter untuk berobat bukan imunisasi. Selalu ada yang pertama ya untuk segalanya. Hehe.. Saking, belum pernahnya Rafasya berobat saya sampai takjub melihat puyer yang bentuknya seperti ini. 



Setahu saya puyer itu masih yang dilipat - lipat pakai kertas. Belum yang sudah tinggal sobek seperti ini. Hehe.. Puyer ini berisi obat batuk. Namun sayangnya setelah 3 hari demamnya kok belum hilang. Saat konsultasi kemarin kami sudah dibekali surat dokter untuk periksa lab. Akhirnya setelah wa dsa Rafasya, kami langsung ke lab untuk cek darah lengkap dan cek tubex. Hasilnya trombositnya turun sedikit dan hasil tubexnya +4. Tubexnya yang + 4 bisa menjadi indikasi Tipes. Namun pada Rafa, tidak ada gejala yang menunjukkan bahwa ia terkena Tipes. Mengingat Rafa nggak mual, muntah atau diare dan masih mau makan bahkan minum dalam jumlah yang cukup banyak. Akhinya dsa menyimpulkan bahwa Rafa demam akibat ada virus yang masuk. Lalu kami pun pulang dengan dibekali antibiotik yang harus diberikan selama 5 - 7 hari jika keesokan harinya Rafa masih demam.

Bibirnya sampai pecah - pecah karena demam. Eh malah ditarikin sama Rafa, jadi berdarah deh


Alhamdulillah sepulang dari dokter demamnya kembali pergi, jadi antibiotiknya nggak dipakai. Sekarang anaknya sudah sehat seperti sedia kala. Mungkin ada beberapa hal yang bisa saya bagi tentang apa yang harus dilakukan saat anak demam, antara lain : 

1. Orangtua jangan panik
2. Tetap pantau suhu demam anak dengan menggunakan termometer, bukan dengan tangan ya..
3. Beri asupan air minum lebih banyak dari biasanya. Kemarin saat Rafa demam dan batpil saya menasihati ya untuk minum jika hidung dan mulutnya sakit. Alhamdulillah Rafa mau, jadi dalam sehari ia bisa minum 3 kali lipat dari biasanya. Jadi banyak pipis, mungkin itu juga yang membantu demamnya segera pergi.
4. Tetap beri makanan yang bergizi. Makanan yang berkuah seperti sup juga akan membuat anak makan lebih mudah.
5. Jika anak demam lebih dari 3 hari dan naik turun (demam terkontrol dengan obat) segera bawa anak ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Mungkin itu yang bisa saya share dari pengalaman pertama Rafa demam kemarin. Agak deg - degan karena biasanya nggak pernah harus ke dokter. Memang cuaca juga sedang nggak bagus ya. Tetap jaga kesehatan keluarga dan diri kita sendiri. Semoga kita sehat selalu ya..