January 17, 2020

Sudah berapa lama kamu menyetir mobil?

Bismillah.
Kayaknya saya belum pernah deh menulis tentang perjalanan saya sampai bisa menyetir mobil kemana - mana seperti sekarang ini. Yukslah siapin kopi dan cemilannya yaa. Semoga tulisan ini bisa mendatangkan manfaat.

Urusan menyetir mobil ini belum lama untuk saya. Baru sejak April 2014 kalau nggak salah. ya sekitar itulah. Jadi saya baru menyetir sendiri selama kurang lebih 6 tahun. Pasti banyak ya yang sudah mulai menyetir sejak SMA atau sejak kuliah? Saya dulu malah nggak berani sama sekali. Kalah deh saya dibandingkan dengan adik perempuan saya yang kuliah saja sudah membawa mobil. Sementara saya? Naik ojek - angkot - bis atau bareng teman yang rumahnya searah. Oh well beda era juga sih. Jaman saya kuliah, orang tua saja hanya punya 2 mobil. Mobil Papa untuk kerja dan mobil mama dengan jadwal arisan dan voli yang bisa setiap hari. Hihihi..

Alhamdulillah sejak menikah kami sudah memiliki mobil. Sempat 2 kali ganti mobil juga sih sejak menikah. Awalnya suami diberikan hadiah mobil yang dipakai sejak kuliah oleh kedua orang tuanya, yaitu Daihatsu Taruna manual. Kemudian nggak lama setelah kami menikah, mobil pun berganti menjadi Nissan Grand Livina manual yang diantar langsung dari dealer resmi. Setelah pindah dari kos-kosan ke rusunami saat hamil Rafasya, saya masih belum berada di belakang setir. Selalu jadi penumpang. Lalu setelah Rafasya lahir baru deh beberapa kali dalam seminggu saya memindahkan mobil dari parkiran di basement ke parkiran di dekat tower rusunami kami. Kalau menyetir mobil sih saya sudah kursus, sekitar tahun 2012 kalau nggak salah saat suami sedang dinas di US. Kurang lebih 2 bulan saya mengungsi di rumah mama maka untuk mengisi hari - haris aya pun les menyetir sampai selesai dan mendapatkan SIM. Namun entah kenapa setelah les saya kok malah nggak berani. Haha.. Saya juga sempat les jahit, makanya saya punya mesin jahit dan sempat jualan pouch dan teman-temannya. Ok lanjut.

Kemudian Allah memberikan rezeki berupa rumah yang sekarang kami tempati. Karena saat itu Rafasya sering saya tinggal membereskan barang - barang kami di rumah baru, ia jadi kesepian. Biasanya saat masih di rusunami, setiap pagi dan sore Rafasya akan main di halaman rusunami bersama teman - temannya. Akhirnya daripada ia kesepian nggak punya teman, karena di komplek kami juga anak kecilnya baru Rafasya saja saat itu, kami memutuskan untuk memasukkan Rafa ke KB. 

Berarti bertambahlah pekerjaan saya sebagai yang mengantar jemput abang Rafa ke sekolah. Tahun 2015 transportasi online belum marak. Kami sempat naik turun angkot lalu sambung ojek pangkalan untuk berangkat sekolah dan pulang ke rumah. Siang - siang saya dan Rafasya naik turun angkot berpanas - panas ria. Nggak jarang anaknya ketiduran sepulang sekolah. 

Mobil kemana? Ada. Nangkring dengan anggun di garasi. Konyol ya? Semua karena saya yang belum berani menyetir mobil manual. Takut mati di tengah jalan saat mengoper kopling. Haha.. Namun akhirnya karena lama - lama Nissan Grand Livina itu seperti menertawai saya saat saya berangkat dan pulang naik ojek akhirnya saya beranikan diri. Dimulai dari maju mundur di garasi terlebih dahulu. Iya serius awalnya saya hanya memanaskan mobil setiap hari. Lalu saya coba maju - mundur lurus tok hanya di garasi. Akhirnya saat saya merasa semua teori menyeimbangkan gas dan menginjak kopling lalu memintahkan persneling saya rasa sudah cukup khatam, akhirnya saya memberanikan diri ke jalan raya. 

Deg-degan? Pasti. Grogi? Tentu saja. Ditemani suami? Tentu tidak. Hanya Rafasya yang menemani saya duduk di carseat di baris kedua. Car seat itu adalah baby stuff yang paling berguna banget untuk saya. Meski saya belum lancar namun saya berani mencoba membawa mobil ke jalan raya karena insyaAllah rafasya aman di car seat. Selain itu plus sedikit nekat juga sih. Nggak deh, karena saya nggak mau merasa ditertawakan lagi sama mobil. Yup, saya memang begitu orangnya. Kalau sudah kena, saya akan berani melakukan apa saja. Tentu kejadian gas ketinggian dan mobil mati saya alami juga dong. Kuncinya memang hanya satu. Tenang dan jalani saja. Hehe..

Saat Rafasya bayi di car seat bayi dengan Grand Livina

degan Car seat Britax masih di Grand Livina 

Alhamdulillah Allah ridho akhirnya saya cukup lancar membawa mobil manual bahkan sudah sampai bisa mengantar jemput Rafasya ke sekolah. Di awal - awal saya menunggu Rafasya di ruang tunggu sampai selesai sekolah. Supaya saya nggak perlu dua kali berangkat menyetir mobil maksudnya. Lama kelamaan saya sudah pede dan bisa beberes di rumah saat rafasya sekolah. 

Ternyata suami saya kasihan pada istrinya kalau harus menyetir mobil manual. Setelah berhitung dan memeriksa tabungan, suami pun mencari mobil lain yang matic. Akhirnya bertemulah dengan Mazda 2 sedan. Dengan mobil matic tentunya saya semakin lancar dong menyetirnya. Dengan mobil matic saya semakin sering menyetir, ya karena memang sehari - hari suami lebih memilih untuk naik transportasi umum saja untuk bekerja.

Saat Arsel sudah nggak mau di car seat, tapi asli deh anak yg udh pernah di car seat itu lbh anteng dan ngerti klo diks tau. Nggak jumpalitan kmana2. Alhamdulillah. 

Saat Arsel masih bayi di Britax lungsuran abang Rafasya


Saya jadi semakin sering berkunjung ke rumah mama, jadi bisa belanja bulanan sendiri, sampai menyetir separuh perjalanan Bandung - Jakarta pun sudah beberapa kali. Bahkan kejadian yang Rafasya kejang itu juga saya yang menyetir mobil dan menghajar semua polisi tidur. Alhamdulillah banget saat itu terjadi saya sudah lancar menyetir. Jadi meski sedang hamil Arsel, suami sedang di luar kota saya bisa tetap fokus menyetir secepat mungkin ke RS. 

Sejak akhir tahun lalu kebersamaan saya dengan Mazda 2 sedan sudah berakhir. Suami memutuskan untuk mengganti mobil. Ketakutan sempat menghampiri saya karena mobilnya lebih besar. Maklumlah, Dari 2015 sudah akrab banget sama si sedan membuat saya sudah mengenal body mobil ini secara luar kepala. Istilahnya, tanpa melihat spion kanan - kiri pun saya sudah bisa. Feelnya sudah dapet. Namun kembali lagi saat saya melihat ada wanita lain yang mengendarai jenis mobil yang sama, saya pun merasa tertantang. masa dia bisa saya nggak bisa? Ah ini kan cuma besar di body mobilnya saja. Lalu dengan diawali supervisi suami untuk mengantar rafasya ke sekolah, akhirnya sekarang saya sudah lancar.

Kemana - mana bertiga. Jadi bisa menyetir itu skill penting u buibu


Untuk saya menyetir itu merupakan skill yang mutlak dimiliki oleh perempuan. Kerena tugas sebagai supirnya anak - anak itu adalah momen dimana kita bisa banyak bercerita dan menggali perasaan anak. rafasya itu kalau baru naik mobil sepulang sekolah pasti ada saja yang diceritakan. MasyaAllah deh momennya. memang sih capek dan lebih praktis naik antar jemput saja. Kalau memang ada ya nggak masalah. Tapi kalau seperti kami, ya akhirnya job desk supir pun masih tersemat dalam keseharian saya sampai hari ini. Say what? Alhamdulillah.

Buat temen - temen yang belum pede berada di belakang setir, yuks dipupuk lagi PDnya. Dilistt deh hal positif atau keuntungan apa yang bisa kita dapat kalau bisa menyetir. InsyaAllah banyak manfaatnya. Nggak beranis ama motor? Kalau tips saya, sama motor itu jangan mau kalah. Jalanan ada 3 jalur misalnya, nah mobil lah yang seharusnya mengisi dan berbaris rapi di 3 jalur tersebut. Motor akan otomatis mengisi sela - selanya. Karena kalau kita takut - takut malah jadi nggak fokus sama menyetirnya. Lihat saja bemper belakang mobil di depan kita. Atur jarak aman dan yang paling penting berdoa sebelum berangkat. 

Semoga bermanfaat ya tulisan ini. Kalau mentemen sudah berapa tahun sih menyetir mobil?

2 comments: