April 8, 2016

Rafasya dan Pengalaman Ambil Darah

Saat demam naik turun naik turun beberapa waktu yang lalu, Rafasya harus menjalani ambil darah sampai 3x dengan selang waktu per 2 minggu. Setelah banyak membaca, saya dan suami jadi tahu bahwa membohongi anak meski demi kebaikan mereka adalah bukan hal yang tepat. Jadi sejak Rafasya kecil insya Allah kami selalu mengatakan yang sebenarnya untuk hal apa pun. Tentunya dengan bahasa yang mudah Rafa mengerti. Sama halnya saat Rafa demam sampai berhari - hari dan kami harus membawanya ke dokter. Kami memberi tahu dirinya bahwa ada kemungkinan Rafasya harus diambil darahnya.

Bunda : Rafasya, kita kan mau ke dokter, nanti kalau kata tante dokter Rafa harus ambil darah ya berarti harus ya..
Rafasya : kenapa Bunda?
B : Ya karena dokternya mau lihat Rafa itu sakit apa, dilihatnya dari darah yang diambil itu.
R : Sakit nggak Bunda? Disuntik ya kalau diambil darah itu? 
B : dimasukin jarum suntik untuk diambil darahnya. Sakit sedikitlah. 
R : Ah, Rafa ga maauuu.. Takut..
B : Rafa mau sehat nggak?
R : Mau Bunda, tapi sakit nanti kalau diambil darah.
B : Ya nggak papa sakit sedikit supaya bisa ketahuan penyakitnya terus sembuh.
R : ...

Dan pada waktunya harus diambil darah yang pertama kalinya, Rafa langsung mau diajak masuk ke ruang pengambilan darah di RSIA Bunda. Namun saat petugas laboratorium datang, Rafa kabur sampai ke tangga. Hahahaha... Saya dan ayahnya harus membujuknya untuk masuk kembali sekitar 5 menit. Rafa bilang ia ingin makan ayam booonchoonn setelah ambil darah. Bungkus Gan.

Sesuai rencana Rafa duduk dipangku ayahnya sementara saya membantu memegangi kakinya. Menurut petugas laboratorium biasanya anak akan meronta jika itu adalah pertama kali mereka diambil darahnya. Akhirnya dengan memalingkan wajah ke kanan karena yang diambil darah adalah tangan kirinya, Rafa pun mulai menangis. Namun, Masya Allah saat jarum dimasukkan ia berhenti menangis. Awalnya saya kira ia berhenti untuk memulai tangis yang lebih kencang dan heboh karena rasa sedikit sakit saat jarum ditusuk. Ternyata Rafa benar - benar berhenti menangis dan meminta kami supaya melepaskan pegangan tangan kami di tubuhnya karena ia mau melihat tangan kirinya. Saat kami lepaskan ia terlihat serius mengamati selang kecil yang mengalirkan darahnya ke botol kecil. Alhamdulillah Rafasya berani dan tidak menangis lagi sampai prosesnya selesai. Hal yang sama juga terjadi saat pengambilan darah yang kedua dan ketiga. 




Ternyata, berkata jujur pada anak akan apa yang terjadi membuat anak lebih siap menghadapi apa pun masalahnya. Adakah Ayah Bunda yang punya pengalaman ambil darah dengan anaknya? Cerita dong..